Jumat, 12 Agustus 2011

Hakikat Drama[1]

Teddi Muhtadin

Dunia ini panggung sandiwara…. (Taufiq Ismail)

1. Pembuka

Taufiq Ismail pernah menulis sebuah puisi. Kemudian, puisi tersebut digubah menjadi sebuah lagu oleh Ian Antono, lantas dinyanyikan oleh Ahmad Albar. Berkali-kali lagu itu dibawakan oleh penyanyi lain. Aneh, rasanya tak pernah daluarsa. Malah, terasa selalu ada nuansa baru yang timbul dari pesonanya.

Puisi itu berjudul “Panggung Sandiwara”. Di dalamnya, Taufiq membandingkan dunia ini dengan sebuah panggung sandiwara. Setiap orang memiliki satu peran yang harus dimainkannya, ada peran wajar, ada peran berpura-pura, dan seterusnya.

Pertanyaan kita. Mengapa Taufiq menggunakan sandiwara sebagai perbandingan?

Dengan simbol sandiwara, mungkin, dunia yang absurd ini bisa lebih mudah dipahami. Ingat, sandiwara adalah jenis kesenian yang kompleks. Di dalamnya ada sutradara, pemain, latar dan lakon. Analog dengan ini, dalam kehidupan, kita menenal Tuhan, manusia, dunia dan hubungan antarmanusia. Bahkan Dr. Ali Shariati (1997: 1) –seorang Muhajir Muslim yang mati sahid pada saat terjadi revolusi di Iran- dalam bukunya yang sangat populer, Haji, menggambarkan bahwa ibadah haji pun bisa digambarkan sebagai sebuah pertunjukan sandiwara. Menurut Shariati:

Di dalam “pertunjukan” tersebut ada syarat-syarat sebagai berikut: Allah adalah sutradaranya; tema yang diproyeksikan adalah aksi dari orang-orang yang terlibat; Adam, Ibrahim, Hajar, dan Syeitan adalah pelaku-pelaku utamanya; skena-skenanya adalah Masjidul-Haram, Tanah Suci, Mas’a, Arafat, Shafa, Marwa, siang, malam, matahari terbit, matahari terbenam, berhala-berhala, dan acara berkorban; pakaian dan make-up adalah Ihram, Halgh, dan Taqshir, dan –yang terakhir sekali- yang memainkan semua peranan di dalam “pertunjukan” ini adalah engkau sendiri!

Selain dengan kata sandiwara, telinga kita pun akrab dengan kata-kata teater dan drama. Kedua kata ini sering dipertukarkan dengan kata sandiwara dan sering pula dijadikan sebagai perbandingan. Misalnya, kita mengenal judul-judul buku atau berita di media massa seperti “Negara Teater” (Theatre State), “Drama Pembajakan Pesawat Terbang”, atau “Drama Pemberontakan G30S/PKI”.

Pupulernya kata sandiwara, teater dan drama menunjukkan pentingnya kata-kata tersebut. Akan tetapi, di sini kita tidak akan membahas kata-kata itu dalam pengertian konotatif yang berupa perbandingan. Di sini, pembahasan akan menukik pada hakikat pengertian kata-kata tersebut. Sesuai dengan mata kuliah yang kita hadapi, yakni Telaah Drama, maka uraian kita pun akan dimulai dengan pelacakan arti kata drama.

2. Beberapa Pengertian

Kata drama tidak lahir di ruang kosong. Kata tersebut lahir di dalam konteks dan bergantung pada sudut pandang. Oleh karena itu sangat wajar jika arti kata itu bermacam-macam.

Secara etimologis kata drama berasal dari bahasa Yunani. Menurut A.F. Scott (1965: 82) kata drama berasal dari kata drân yang artinya to do, act (peristiwa, perbuatan). Akan tetapi, menurut RMA. Harymawan (1988: 1) kata drama berasal dari draomai, yang artinya hampir sama yakni berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi dan sebagainya. Jadi, ditinjau secara etimologis, cakupan pengertian kata drama, pada awalnya sangat luas dan menjadi kabur karena tidak berbeda dengan kehidupan itu sendiri, yang di antaranya, terdiri atas tindakan dan perbuatan.

Dalam perjalanan kemudian, pengertian drama itu berkembang menjadi dua kelompok. Pertama yang menitikberatkan pada pementasannya. Kedua yang menitikberatkan pada sastranya.

Pengertian-pengertian yang merujuk pada kelompok pertama dapat kita buka dalam buku Dictinary of World Literature (1960) dan Encyclopedia Britanica (1960). Dalam buku pertama dijelaskan bahwa drama itu berarti any kind of mimetic performance (pertunjukan yang memakai mimik), dan di dalam buku yang kedua kita akan menemukan bahawa pengertian drama itu adalah a thing done or “performed” (perbuatan atau pertunjukan).

Jika kita perhatikan, pengertian drama seperti di atas akan mencakup semua jenis pertunjukan, dari pementasan “Julius Caesar”, pantomim, opera, wayang, longser, sampai upacara keagamaan suku primitif. Dalam pembahasan kita, semua jenis pertunjukan ini akan dirangkum dalam istilah teater.

Adapun pengertian drama yang menitikberatkan pada sastra, di antaranya, dikemukaan oleh Panuti Sudjiman dan L. Hornstein. Menurut Panuti Sudjiman (1986: 20) drama adalah sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat dialog; lazimnya dirancang untuk pementasan panggung. Menurut L. H. Hornstein (lihat Brahim, 19: 32) drama adalah a literary work written in dialogue and intended for presentation by actor (karya sastra yang ditulis dalam dialog dan dimaksudkan untuk dipertunjukan oleh seorang aktor).

Di dalam Telaah Drama, pengertian inilah yang dipakai, yaitu pengertian drama sebagai karya sastra.

3. Ciri-ciri Drama

Drama dapat dibedakan dari puisi dan prosa (cerpen dan novel). Menurut Goenawan Mohamad yang dikutip oleh Japi Tambajong (1981: 18) puisi adalah suatu pembincangan ke dalam hati yang mengimplikasi pengakuan orang kedua sebagai person. Secara umum, puisi memiliki ciri-ciri visual, di antaranya yaitu jumlah kata, enjambement, bait, larik, dan rima.

Sebagai contoh, mari kita perhatikan sajak “Jagat Alit” karya Godi Suwarna di bawah ini.

JAGAT ALIT

Hareupeun kelir: Kalangkang-kalangkang wayang

kalangkang usik-usikan, kalangkang diobah-obah

Ieu reundeuk reujeung igel, ieu tincak reujeung ketak

Pulang anting, pulang anting lebah dunya hideung bodas

Dongéng naon nu rék midang?: Dalang kawasa!

Aya raga nu tumamprak sanggeus campala noroktok

Sabot nungguan balébat, duh peuting ngajak ngalinjing

Rénghap ranjug, rénghap ranjug saméméh ajal ngolébat

Prosa ditandai dengan penggunaan kata-kata yang mengalir tidak terbatas. Pengarang merangkaikan plot dengan menggunakan sarana narasi dan dialog. Di bawah ini adalah conto prosa, yaitu sebuah cerita pendek berjudul “Sri Panggung Dogér Karawang” karya Iskandarwassid:

Kuring diuk ti tepas téh pangsisina. Suku beulah katuhu nincak kana golodog. Tulang tonggong nyecep asa ditangkodan és. Awak kuring téh tuda ukur dibungkus ku kaos kurung, salancar. Ceu Awang nyahoeun kuring katirisan. Pel numpangkeun leungeunna kana tuur kuring bari ngaharéwos:

“Tiris?” cenah.

“Tiris,” walon kuring.

“Dina buntelan aya samping Euceu hiji deui. Cokot geura. Di mana tadi diteundeunna buntelan téh?”

Kuring teu ngomong, keur mikiran poé isuk.

Berbeda dari puisi dan prosa, drama memiliki ciri-ciri khusus. Ciri-ciri tersebut sering dikatakan sebagai anatomi drama. Aanatomi drama itu, di antaranya adalah babak, dialog, petunjuk pementasan, prolog, epilog, soliloqui dan aside.

Pada umumnya, drama terbagi ke dalam beberapa babak. Tentu saja, pembagian babak ini tidak sewenang-wenang, tapi memiliki tujuan, terutama dalam hubungannya dengan pementasan. Drama bukan prosa yang bisa bergerak bebas dari satu latar ke latar lainnya dengan cepat. Drama sangat bergantung pada ruang dan waktu pementasan.

Menurut Jakob Sumardjo & Saini K.M. (1984: 136) satu babak dalam naskah drama adalah bagian dari naskah tersebut yang merangkum semua peristiwa yang terjadi pada urutan waktu tertentu.

Tidak ada ketentuan berapa babak drama harus ditulis. Drama “Tambang” karya R. Hidayat Suryalaga dan drama “Rajapati” karya Ahmad Bakri hanya terdiri atas satu babak. Akan tetapi, drama “Cinta Padungdung” karya Arthur S. Nalan malah terdiri atas enam babak.

Babak biasanya terbagi atas adegan. Adegan adalah sebuah peristiwa yang ditandai dengan keluar atau masuknya seorang tokoh atau lebih. Sebagai contoh, drama “Tambang” karya R. Hidayat Suryalaga terdiri atas empat adegan. Adegan pertama ditandai dengan masuknya tokoh Akang dan Nyai. Adegan kedua ditandai dengan masuknya tokoh Lalaki I dan Lalaki II. Adegan ketiga ditandai dengan masuknya Pulisi, Pamuda dan Sarce. Adegan keempat ditandai dengan masuknya Para Perawat.

Perbedaan yang sangat khas antara drama dan karya sastra lainnya (puisi dan prosa) sebenarnya terletak pada dialog. Menurut Hasanuddin WS. (1986: 15) dialog adalah sarana primer dalam drama, maksudnya merupakan situasi bahasa yang utama. Karena di dalam drama tak ada juru cerita yang langsung menyapa penonton. Hal ini terutama terjadi pada drama modern.

Mari kita perhatikan dialog-dialog dalam drama “Rajapati” karya Ahmad Bakri di berikut ini.

KUWU : Tah geuning Lurah aya di dieu. Kumaha ieu téh? Kumaha mimitina?

LURAH : Nyi Ijah, bojona Darma, aya nu mergasa.

KUWU : Lain palid?

LURAH : Sumuhun, nanging dipergasa heula, teras dipalidkeun.

KUWU : Masya Alloh. Cik caritakeun ti mimitina!

LURAH : Tadi wanci haneut moyan, Nyi Ijah nyeuseuhan di Cigedé.

KUWU : Nu mana téa atuh Nyi Ijah téh?

LURAH : Ieu bojona Darma.

KUWU : (MORONGOS). Heueuh, nyaho! Ngan jelemana teu apal.

LURAH : Éta lah, nu alit-alit hideung santen.

KUWU : (NEPAK PINGPING). Euh, heueuh, inget geus dibéjakeun hideung santenna mah! Kempot lain pipina téh?

LURAH : Sumuhun.

KUWU : Heueuh, bener, bener, kempot. Kumaha tuluyna?

LURAH : Dugi ka siang teu wangsul. Disusulan ku éta si Éméh kasampak seuseuhanana waé nambru. Getih ucrat-acrét dina batu, dina seuseuhan.

KUWU : (UNGGEUK-UNGGEUKAN). Tétéla, aya nu mergasa. Can kapanggih mayitna?

LURAH : Nuju ditareuleuman. Diluluguan ku Lebé.

KUWU : Naon kira-kirana nu jadi alatan? Saha nu babarengan nyeuseuh harita?

LURAH : Duka. Sugan manéh nyaho, Éméh?

EMEH : (NYELANG CENGKAT). Wartosna mah sareng Nyi Icih.

KUWU : Tah geuning. Téang si Icih, Kulisi!

DARMA : Moal salah. Tétéla ku si éta!

KUWU : (NGARÉNJAG KAGÉT). Ari kitu?

DARMA : Si Icih téh poptongan abdi, maru pun bojo. Sirikeun éta téh Pa Kuwu!

KUWU : (UNGGEUK-UNGGEUKAN). Tétéla. Téwak waé enggeus si Icih!

LURAH : (GOGODEG). Teu sangka ku si Icih. Nepi ka kitu.

Tindak bahasa yang paling menonjol dalam dialog di atas adalah pertanyaan dan perintah. Pertanyaan adalah permintaan agar diberi informasi, jadi memancing sebuah berita. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan Kuwu dan jawaban-jawaban Lurah, Darma dan Éméh. Adapun perintah atau permintaan (atau bentuk lawannya yang berupa larangan) memancing suatu perbuatan pada lawan bicara. Contohnya perintah Kuwu kepada Kulisi. Dengan menonjolnya tindak bahasa seperti di atas, dapat disimpulkan bahwa teks drama merupakan kejadian yang terjadi di atas panggung, sedangkan teks naratif bercerita mengenai suatu kejadian (lihat kembali kutipan Cerpen “Sri Panggung Dogér Karawang”).

Sebuah drama tidak hanya terdiri atas dialog. Umumnya disertai dengan penjelasan-penjelasan[2]. Penjelasan ini, menurut Jan van Luxemburg dkk. (1986: 160) kedudukannya sekunder, karena selama pementasan tak pernah diucapkan, tetapi dikonkretkan lewat isyarat-isyarat nonbahasa. Adapun Jakob Sumardjo & Saini K.M. (1984: 137) menyebutnya petunjuk pengarang, dan Jan van Luxemburg dkk. (1986: 166) menyebutnya teks samping (karena umumnya terletak di samping dialog).

Umumnya penjelasan atau teks samping itu ditulis dengan hurup besar dan diletakkan di dalam kurung. Akan tetapi ada pula yang ditulis dengan hurup kecil atau hurup miring. Kalau kita perhatiakn kembali teks dialog di atas, maka kita akan menyatakan bahwa kata-kata seperti (MORONGOS), (NEPAK PINGPING), (UNGGEYUK-UNGGEUKAN), (NYELANG CENGKAT), dan (GOGODEG) adalah merupakan teks samping atau kramagung.

Selain yang berupa kata-kata singkat, teks samping bisa merupakan kalimat yang panjang. Isinya merupakan penjelasan pementasan. Sekarang kita perhatiakn contoh teks samping drama “Cinta Padungdung” karya Arthur S. Nalan, berukut ini.

(DI PALATARAN IMAHNA, JURAGAN WARGUD KEUR NYAKSIAN KULI-KULINA NGAKUTAN PETI-PETI LAUK ASIN JEUNG TARASI. MANÉHNA BARI DIUK DINA KORSI GOYANG BARI NGABENDELÉH. AWAKNA NU BUTETER GENDUT KACIRI BARI DIKIPASAN KU SORANGAN, OGÉ BARI NGADAHAR BONTÉNG. DINA MÉJA DI GIGIREUNANA AYA BONTÉNG SAPIRING. DIBATURAN KU GOBÉD, CENTÉNGNA).

Prolog dan epilog adalah dua hal yang biasanya ada dalam naskah drama. Prolog dan epilog adalah sebuah wacana kecil yang diletakkan di depan dan di belakang teks utama. Fungsinya mendukung teks utama.

Sebenarnya prolog bisa menjadi sarana penyampai yang baik bagi sebuah pementasan dan dapat menjadi sarana penggiring yang baik bagi pemahaman naskah drama. Akan tetapi, sekarang prolog sering ditinggalkan para dramawan dan sudah dianggap tidak perlu. Mereka mengharapkan para penonton langsung mengapresiasi pementasan tanpa harus diantar oleh orang lain.

Menurut Jakob Sumardjo & Saini K.M. (1984: 137-138) prolog dapat berisi masalah, gagasan, pesan pengarang, jalan atau alur cerita (plot), latar belakang cerita, tokoh cerita, dan lain-lain.

Mari kita perhatikan contoh prolog berikut ini. Prolog ini berupa sinopsis drama jemblungan dengan judul “Musibah Alam” karya R. Hidayat Suryalaga.

Caah rongkah narajang pilemburan. Barudak teu bisa sakola. Bapa tani bongkor ka sawah. Nu jadi indung jaba ti teu bisa popolah téh, kudu ngurus budak nu gering.

Timbulna caah téh ku lantaran loba miceun runtah sagawayah, jeung kai di leuweung ditaluaran teu jeung jeujeuhan. Nu matak, nya jadi érosi.

Ciri lain dari drama adalah soliloqui dan aside. Keduanya adalah konvensi pementasan. Soliloqui adalah pembicaraan kepada diri sendiri. Hal ini tidak bergantung pada hadir tidaknya tokoh lain. Dalam drama berbahasa Sunda soliloqui ini biasanya disebut gerentes hate atau ngomong sorangan. Naskah drama “Tongetret Banen” karya Wahyu Wibisana memiliki banyak soliloqui, satu di antaranya adalah sebagai berikut.

NINI JUMI : … Aki keur naon di dinya?

AKI JAMHARI : Keur meresihan kuburan…. (NGOMONG SORANGAN). Gusti Alloh geus nepungkeun Aki jeung manéhna ayeuna di dieu. Nepungkeun awéwé jeung lalaki, sanajan Aki geus aki-aki, manéhna geus nini-nini, biasana Gusti Alloh mah sok kagungan rarancang dina sagala rupa kajadian-kajadian di alam dunya téh. Naon kira-kirana pikersaeun Anjeunna nu matak ayeuna Aki ditepungkeun jeung Nini Jumi?

Aside adalah dialog yang diucapakan secara langsung oleh tokoh kepada penonton. Seperti halnya soliloqui, aside pun tidak bergantung pada hadir tidaknya tokoh lain. Pokoknya, diandaikan bahwa tokoh lain yang berdekatan dengannya tidak mendengarkan dialog yang ditujukan kepada penonton. Aside sendiri artinya ke samping. Dalam drama berbahasa Sunda aside biasanya ditandai dengan teks samping (KA NU LALAJO) atau ( KA PANONGTON).

Aside dan soliloqui banyak terdapat dalam naskah nonrealis, misalnya dalam longser, uyeg atau cador (penca bodor). Sebaliknya, dalam naskah drama realis kedua hal tersebut tidak mendapatkan tempat, karena dianggap tidak logis.

4. (Sastra) Drama dan (Pertunjukan) Teater

Telah dijelaskan pada pasal 2 bahwa pembicaraan mengenai drama akan mengacu pada karya sastra dan pembicaraan mengenai teater mengacu pada pertunjukannya.

Bagaimana kedudukan sastra drama dan teater itu?

Ada banyak pendapat yang membahas tentang hal ini. Dalam hubungannya dengan pementasan, Goenawan Mohamad (1981: 91) menyatakan bahwa status karya sastra drama itu pralakon. Dan menurut Sapardi Djoko Damono (1983: 150) bahwa sebagai karya sastra, drama itu dipentaskan atau tidak bukan masalah.

Pendapat lain dikemukakan oleh Saini K.M.. Menurutnya (1983/1984: 11) sastra drama dan pementasannya saling membutuhkan; karya sastra drama belum selesai dengan tuntas sebelum dipentaskan, sedangkan karya teater akan goyah kalau tidak bertolak dari karya sastra drama yang baik.

Di sini tampak bahwa Saini K.M. meletakkan sastra drama dan teater dalam kedudukan yang sejajar. Kalau terus kita telusuri, akan tampak bahwa meskipun sastra drama dan teater memiliki kedekatan, tapi di antara keduanya memiliki kekhususan-kekhususan yang tak boleh dilanggar. Contohnya, menganalisis sastra drama harus dengan hukum-hukum drama, begitu juga kalau kita menganalisis pertunjukan teater harus pula dengan hukum-hukum teater. Jangan dicampur aduk, kecuali menganalisis sastra drama untuk keperluan pementasan.

Sebagai karya sastra, drama memiliki unsur-unsur, di antaranya, alur, tokoh dan penokohan, latar, dan tema. Sebagai sebuah pementasan, teater memiliki unsur-unsur, di antaranya, komposisi pentas, tata busana (kostum), tata rias, pencahayaan, tata suara, sutradara dan pemain.

Mementaskan karya sastra drama, sebenarnya adalah transformasi dari sastra drama ke pementasan teater. Atau dengan menggunakan bahasa Saini K.M. (1983/1984: 10) mementaskan karya sastra drama berarti mengolah naskah yang semula bersifat verbal menjadi verbal-audio-visual dan kinesik.

5. Rangkuman

Drama memiliki dua dimensi pengertian, yang pertama mengacu pada karya sastra, yang kedua mengacu pada pementasannya. Dalam pembahasan Telaah Drama, pengertian drama yang mengacu pada pementasan disebut teater.

Secara visual drama memiliki ciri-ciri yang membedakannya dari puisi dan prosa (novel dan cerpen). Ciri-ciri tersebut biasanya disebut anatomi drama. Yang termasuk anatomi drama itu di antaranya babak, adegan, dialog, teks samping, prolog, epilog, soliloqui dan aside. Sebagai catatan, tidak semua drama memiliki anatomi yang lengkap.

Sastra drama dan teater memiliki kedudukan yang sejajar. Sastra drama dan pementasan teater saling membutuhkan. Akan tetapi sastra drama dan teater memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak boleh dilanggar. Sastra drama, di antaranya, memiliki unsur-unsur alur, tokoh dan penokohan, latar, dan tema; perjuntukan teater memiliki unsur-unsur komposisi pentas, tata busana (kostum), tata rias, pencahayaan, tata suara, sutradara dan para pemain.



[1] Sebuah pengantar perkuliahan.

Nonverbal - Tentang Api