Selasa, 31 Maret 2015

Narasi Seni Ganjar Kurnia

31 Maret 2015

Karya Seni Ganjar Kurnia, Menengok ke Belakang, Ada di Kekinian, dan Memandang ke Depan

[Unpad.ac.id, 31/03/2015] Selain menjabat sebagai Rektor Universitas Padjadjaran , Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA juga aktif melahirkan berbagai karya sastra dan seni. Di tangannya, lahir berbagai karya mulai dari seni dan sastra Sunda hingga karya kontemporer. Karya tersebut lahir semasa masih kuliah hingga duduk menjadi Rektor Unpad periode sejak 2007.
Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA saat Pidangan Rumawat Padjadjaran "Narasi Seni Ganjar Kurnia" di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Senin (30/03). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA saat Pidangan Rumawat Padjadjaran “Narasi Seni Ganjar Kurnia” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Senin (30/03). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
“Karya Pak Rektor itu punya kekuatan. Ada misi yang jelas sebagai orang Sunda, orang Islam, dan sebagai orang pendidik,” ujar dosen Sastra Sunda FIB Unpad, Drs. Teddi Muhtadin, M.Hum., usai menyaksikan Pidangan Seni Rumawat Padjadjaran ke-77 bertajuk “Narasi Seni Ganjar Kurnia” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri Bandung, Senin (30/3).
Selain mempunyai misi yang jelas, karya yang diciptakan Prof. Ganjar selalu memandang Kesundaan secara optimis. Seni Sunda tidak melulu mengikuti pakem yang sudah ada. Dalam hal ini, karya yang diciptakannya sangat terbuka terhadap perkembangan dan fenomena sosial saat ini.
Hal ini tampak pada beberapa karya yang dipentaskan dalam pidangan kali ini. Karya dari beberapa genre, seperti sajak, lagu, opera Sunda, gending karesmen, oratorium, syair keur syiar, fiksi mini, hingga adaptasi haiku (puisi pendek Jepang) dipentaskan dengan apik oleh tim Unit Kesenian Unpad dan UKM PSM Unpad.
Salah satu yang mendapat sentuhan kontemporer dari tangannya ialah gending karesmen. Dalam uraian Prof. Ganjar, gending karesmen yang diciptakannya tidak terikat pada pakem yang selama ini melekat, yakni harus mementaskan cerita Sunda zaman dahulu. Padahal, tema kontemporer juga bisa dipentaskan.
Sehingga, lanjut Teddi, semangat keterbukaan inilah yang melahirkan berbagai karya, khususnya Sunda, yang baru. “Kebelakangnya dia menengok, kekiniannya juga kuat di data-datanya, ke depannya juga beliau pikirkan,” imbuh Teddi.
Yesmil Anwar, S.H., M.H, seniman yang juga dosen FH Unpad juga punya pandangan. Menurutnya, Prof.Ganjar memiliki banyak media ekspresi. Karya-karyanya pun sarat dengan nilai pendidikan dan religius.
“Diharapkan, ke depan ia mampu membuat karya dengan waktu yang cukup sehingga terjadi pengendapan, ada kontemplasi, dan kreativitasnya bisa utuh,” ujar Yesmil yang juga seorang penyair.
Apresiasi terhadap karya Prof. Ganjar juga diungkapkan oleh Prof. Dr.med. Tri Hanggono Achmad, dr., Dekan FK Unpad yang juga sebagai Rektor Terpilih Unpad 2015-2019.
“Isinya sarat dengan value yang luar biasa. Dan menyampaikan value tersebut memang memerlukan metode yang tidak konservatif,” paparnya.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Sabtu, 28 Maret 2015

Sayudi jeung Chairil

   Teu deuk ngawadul atawa ngarahul, mun dibandingkeun jeung Chairil Anwar, tétéla Sayudi leuwih unggul. Ari anu jadi lantaran Chairil mah ngawakilan méstigo-isme, sanggeus ninggalkeun warisan Malayu jeung Minangkabau téh jadi lieuk euweuh ragap taya. Ari keur Ki Sayudi mah béda deui, sabab keur manéhna mah tradisi Sunda téh can ucul, masih kénéh mangrupa rajakaya jiwana, anu terapna ngalemah pageuh teu kaendagkeun ku pangbibita deungeun. Ku sabab kitu, puisi-puisi Ki Sayudi mangrupa hiji pangwangun anyar (reshaping) titinggal karuhun. Ieu téh kacida pentingna, sabab kabudayaan disawang tina jihad karohanian mah mangrupa prosés anu sambung-sinambung henteu pegat-pegat.
Prof. Buyung Saleh Puradisastra


[1] Panganter kana buku Madraji: Carita Pantun Modern karya Sayudi. Diterbitkeun ku Medal Agung, Bandung, 1983. Ku kuring dijudulan “Sayudi jeung Chairil”.

Jumat, 27 Maret 2015

Bebaskan Aku dari Rasa Sayang



 Téddi Muhtadin

Buku Merayakan Hidup (Eko)
Pak Dudih adalah guru besar linguistik di Fakutas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Nama lengkapnya Prof. Dr. Dudih Amir Zuhud, M.A. Sebagai mahaguru Pak Dudih berdiri di strata tertinggi di lingkungan akademik. Meskipun berkedudukan tinggi Pak Dudih adalah seorang mahaguru yang membumi. Ia tetap seorang dosen yang hangat, penuh empati dan memiliki selera humor yang kuat. Humor-humornya dalam bahasa Sunda begitu spontan. Namun, Pak Dudih juga bisa marah. Saya pernah satu kali menyaksikannya dalam satu rapat Fakultas.
Saya mempunyai pengalaman yang tak terlupakan dengan Pak Dudih. Ini berkaitan dengan perjalanan hidup saya sebagai seorang bakal calon pegawai negeri sipil di lingkungan Fakultas Sastra Unpad. Saat itu Pak Dudih menjabat sebagai Pembantu Dekan I yang bertugas mewawancarai para bakal calon dosen tersebut. Saya mengikuti semua perosedur penerimaan: dari mulai tes tertulis sampai praktik mengajar. Namun, Pak Dudih adalah pewawancara yang ganjil. Seharusnya sebagai PD 1 beliau menanyai saya tentang hal-hal yang berkaitan dengan akademik. Mungkin kurikulum, GBPP, SAP, atau yang berkaitan dengan praktik mengajar. Semua itu tidak dilakukannya. Alih-alih bertanya tentang hal-hal yang bersifat akademik, Pak Dudih malah bertanya apakah saya sudah punya pacar, apakah saya mau dipertemukan dengan seorang gadis dan keluarganya. Jika saya siap Pak Dudih bersedia mengantar.
Saat itu saya kaget dan sulit menjawab. Saya hanya senyam-senyum dan, mungkin, membuat Pak Dudih jengkel. Kemudian, beberapa bulan berlalu, Pak Dudih yang PD 1 itu, benar-benar menjadi “mak comblang” untuk seorang remaja senja. Dalam acara makan siang saya dipertemukan dengan gadis manis lulusan penguruan tinggi yang terkenal.
Peristiwa itu membuat saya bertanya mengapa Pak Dudih lebih perduli terhadap kehidupan keluarga yang harus saya bangun? Mengapa ia tak mengajukan sedikit pun pertanyaan tentang kompetensi akademik yang menjadi tugasnya?
Saya menduga bagi Pak Dudih hidup berkeluarga jauh lebih penting daripada bertanya tentang kesungguhan saya untuk menjadi dosen. Bukankah beliau sudah mengetahui bahwa saya sudah enam tahun magang, sudah dua kali mengikuti tes, dan tidak pernah berpindah mencari pekerjaan lain. Mungkin juga Pak Dudih sudah mengetahui ketidakmampuan saya.
Teddi, Nana, Rasus, Erlina (Eko)
Akhirnya, kami tidak berjodoh. Saya menikah dengan gadis yang lain. Namun, apa yang diupayakan Pak Dudih begitu mengendap di dalam benak. Kini, setelah belasan tahun berlalu maknanya tampak nyata, bahwa hidup berkeluarga, bahwa memiliki teman sejati, yaitu istri, adalah satu pencapaian yang layak dirayakan. Mungkin keberadaannya biasa saja, namun ketiadaannya sangat mengguncang. Barangkali, itulah sebabnya Pak Dudih memberi judul kumpulan sajaknya Merayakan Hidup. Rasa humor, empatinya terhadap orang lain, pun kemarahannya masih muncul dalam sajak-sajaknya, tetapi yang menjadi ruh atau motif dasar kumpulan sajak tersebut adalah kerinduan yang begitu dalam kepada sang teman sejati. Dalam sajak yang ditulis paling awal, namun ditempatkan paling akhir, kita melihat dampak yang begitu besar terhadap sang subjek lirik akibat dari ketiadaannya. Dalam sajak yang ditulis 2 Januari 2012 tersebut Pak Dudih menulis:

After shes’s gone
I walk alone.
Through dark road alone
And I don’t know which direction to take
I don’t care what will happen
Because my sorrow deepens.
And right or wrong seems the same to me.

Sajak ini memberi tahu kita betapa teman sejati itu begitu besar artinya bagi sang subjek lirik. Pak Dudih yang guru besar itu adalah seorang akademisi yang harus kokoh memegang prinsip akademik, yang harus empiris, sistematis, objektif, analitis, dan verikikatif. Namun, dalam sajaknya sang subjek lirik justru gamang sehingga tidak tahu arah dan tujuan, tak bisa membedakan baik dan buruk. Saya tidak tahu apakah sebelumnya Pak Dudih menulis sajak. Namun, yang jelas, sang guru besar itu kini telah menjadi penyair. Dalam sebuah sajaknya yang bertanggal 12 Januari 2015, Pak Dudih merendah bahwa sajaknya tidak indah. Namun, sulit diingkari bahwa sajak-sajaknya menyentuh dan mengharukan. Ini terjadi karena sajak-sajaknya meluap dari gejolak hatinya, bukan datang dari hasrat mencipta karya sastra sehingga tékték bengék semacam judul menjadi tidak relevan.
Merayakan Hidup (Eko)
Sikap seperti itulah yang memungkinkan lahirnya sajak-sajak terbaik dalam kumpulan ini, seperti sajak bertanggal 29 April 2012 “Doa untuk Istriku” dan sajak bertanggal 10 Desember 2014, “Untuk Prof. Chaedar”. Dalam “Doa untuk Istriku” teman sejati yang telah meninggal dunia ia bandingkan dengan seseorang yang harus dijaga dengan hati-hati agar tidurnya tetap terlelap. Ia berusaha tidak menangis apalagi menjerit, walaupun sakit, agar dia tidak terusik. Sungguh mengejutkan pada tiga larik terakhir tiba-tiba subjek lirik sadar bahwa perjalanan hidupnya pun akan menuju ke ketiadaan dan satu ketika mereka akan hidup bersama lagi. Pada titik ini kematian menjadi sesuatu yang dirindukan.   

Doa untuk Istriku:
Tidurlah yang lelap
Diselimuti kasih Ilahi
Air mata ini tak bisa ditahan
Tapi bukan tak rela kaupergi
Hanyalah ganti suara yang senyap
Aku mau menjerit menyapa langit
Namun aku takut kau terjaga
Dan jadi terasa lagi yang sakit.
Aku tahan ini ratapan dengan suara hujan.
Tidurlah yang lelap
Nanti kala kauterjaga.
Di sampingmu aku telah berada

Sajak ini sebanding dengan sajak “Untuk Prof. Chaedar” yang bertanggal 10 Desember 2014. Pada sajak ini pun subjek lirik melihat kepergian sahabatnya seperti orang yang “berjalan bergegas/Seolah rindu Ilahi”. Adapun subjek lirik “tak bisa mengantar terlalu jauh”. Sama halnya dengan sajak “Doa untuk Istriku” subjek lirik mengungkapkan harapan yang sama:

Tunggu aku dengan rindu
Mungkin tak lama
Kita berjumpa

Selain sajak-sajak berbahasa Indonesia dan Inggris, dalam Merayakan Hidup terdapat pula sajak-sajak berbahasa Jawa, Perancis, Jerman, dan Sunda. Sajak-sajak Sundanya lebih beragam. Di sini tampak bahwa Pak Dudih bukan hanya menguasai penulisan sajak bebas, tetapi menguasai pula bentuk-bentuk puisi tradisional Sunda seperti sisindiran ‘pantun’, papatet, dan dangding. Sebagai guru besar yang pernah menjadi guru sekolah dasar, tentu hal yang wajar. Puisi-puisi tersebut lebih indah jika bukan hanya dibaca, tetapi ditembangkan. 
Untuk mengugkapkan rasa humornya Pak Dudih menggunakan sajak bebas dan sisindiran atau sésébréd. Namun, untuk mewadahi suara hatinya yang murung, rindu, dan bimbang ia gunakan dangding dan papatet. Pada pupuh asmarandana yang bertanggal 14 Maret 2013 tampak Pak Dudih sangat menguasai seluk beluk pupuh. Kesedihan karena ditinggal pergi oleh teman sejati ia ungkapkan dalam pilihan pupuh, pilihan kata, rima, guru lagu ‘bunyi vokal akhir setiap larik’, guru wilangan ‘jumlah suku kata dalam setiap larik’, dan pedotan ‘jeda di tengah larik’ yang tepat.  
Dudih Amir Zuhun (Eko)

Ati teu eureun ngageuri
Peurih lir keuna ku peurah
Teu bisa diupah-apéh
Terus-terusan marudah
Inget waé ka nu mulang
Asa milu puput umur
Kabeungkeut rasa honcéwang!

Inilah kumpulan sajak tentang teman sejati yang menjadi alasan kuat mengapa hidup menjadi penting untuk dirayakan. Namun, karena teman sejati begitu menyatu dengan sang diri, kepergiannya menjadi kepedihan yang tidak tertahankan. Oleh karena itu, teman sejati yang menjadi sumber kegembiraan, juga menjadi sumber kesedihan. “Kekasihku/Sepeninggalmu hidupku takbahagia/Berantakan/Dan jadi beban/Bagi anak-anak dan orang lain” (15 Januari 2015). Sang kekasih begitu menyedot perhatiannya hingga dalam larik yang lain muncul larik yang sangat matang “Bebaskan aku dari rasa sayang” (23 Desember 2014). 
Pamungkas, Santolo Cilauteureun. Kasono teu eureun-eureun.
Selamat membaca! Selamat merayakan hidup!

Lélés, 9 Februari 2015

Minggu, 22 Maret 2015

Basa Kabatinan[1]



D.K. Ardiwinata

Ngomongkeun kabatinan, basa téh hésé dibébérésna, lain hésé mémérésna, puguh gé kabatinan mah lain kalahiran, kanyataan, kabasaan kabiwiran, ieu mah ka-atian, ka-anginan, kahiangan.
Luang nu kasorang, kabatinan téh geus hésé ku manéh, teu pérlu dihéséan deui
ku cangkang pesékeun, dipupusing ditarucingkeun.
Dunya basa jeung basa dunya leuwih resep kana babaran nu nembrak, négla tétéla, ku basa nu ninggang kana basa terang, ngarah kaharti ku nu ngahartikeun, teu disasaran deui ku kasurtian.
Ari basa, jijieunan jelema bangsa kasomahan, ka-adaman, lain bangsa Kapangéranan; nu puguh basana ngan nu puguh buktina, nu puguh itunganana, cék mata, cék ceuli, cék pancadria.
Dina alam bilangan:
Aing mah boga sarébu.
Aing mah komo sarébu-rébu, sajuta.
Komo aing mah, sajagat langit.
Hih, aing mah komo pisan, sa... sa... sa-ehheh.
Sa- ehheh; ngucapkeunana bari gosom digeremkeun! kecap nandakeun kaayaan anu pangpangna, panglobana, nepi ka teu kaitung, teu  kaci aya nu ngaleuwihan deui.
Naha teu ngarang kecap nu gagah kadéngéna, sajegur, sageleger ka dinya! Ieu mah bet nyokot kecap nu nyosok jero, ngucapkeunana ogé teu kudu maké biwir: Ehheh! nyedek kana hulu angen di jero dada.
Naon pingaraneunana dina basa Sunda? ..............     
Alloh = Gusti? Pangéran? Maha Suci? Daya-Hurip?
Kabéh salah. Salah sotéh bisi dibandungan ku ahli basa, sabab tangtu dinaha-naha ku nu boga akuan. Geura:
Disébut Gusti, Pangéran, éta mah kecap kapangkatan karatuan kaménakan.
Disebut Maha Suci, éta mah cara sesebutan di Hindu, tuduh kaayaan anu kacida sucina; leuwih ti kacida téh digantina ku maha.
Disebut Daya, ieu mah kecap kakuatan, kakawasaan, tuduh kana usik malik; najan ditambahan Jatining ditumbuan Hurip ogé, salah kénéh baé, bukti-buktina baréto dina Kabudajan Sipatahoenan sakitu raména nu ngabantah teu mupakat, pédah maké basa nu geus biasa dipaké ku kadunyaan maranéhanana.
Dibulak dibalik, béakeun basa pingaraneun pibasaeun, nya ditelah ngaran Alloh-manéhanana.
Ti baheula ogé geus dibéré patokan réngréngan 20 rupa. Cing teguh kira-kirana aya mahluk, bangsa naon baé, nu kitu kaayaanana? anu kitu sipatna? dzatna? nu teu awalan teu ahiran, teu arah teu enggon, lain lalaki lain awéwé, teu anakan teu dianakkeun, teu aya baturan ngan hiji-hijina? harti hiji téh lain hiji bilangan, hiji korsi hiji méja, hiji sotéh kahijian, cék basa Arab mah: Wahdatul kasra = Tunggaling akéh; basa Sundana mah: Can katimu.
Tuh ayeuna ka ditu ténjo sing jauh, béh ditueun gunung, béh ditueun basisir, béh ditueun bulan, ditueun langit, ditueun jauh, pangjauh-jauhna, tungtunging jauh teu kaselang deui ku séjén jauh, pangjauh-jauhna jauh, jauuh..., jauuuh, nepi ka... plong!
Geus tépi? Kasurti?? Karasa atawa kaharti ???
Hadé! Geus kitu geuwat balik deul dieu, hiap ka dieu, sing dieu, béli sing deukeut, sing ant~l, sing nap~l. rapét, sing rakét, sing guléj, béh kulit, béh dieueun daging, dieueun dieueun jantung, dieueun sir, sumër~psëp, dieu, ieu..., jeu... geus léh, geus béak! geus musna!! teu lapan ku ieu séjén !!! j é u é u népika... plong!
Runghap-rénghap bawaning ku capé.
Jol patalékan nu ngadéngékeun, cenah: Sabaraha pal jauhna ti lébah Plong nu itu nëpi ka Plong nu ieu; lamun dilampahan ku leumpang suku sabaraha réwu windu taun, dilakonan tumpak onta sabaraha juta bulan? Lebah mana watesna, mun disebut misah; kuma patalina mun disebut hiji, hiji anu tadi ? ......    
Atuh da ALLAH mah gumelarna teu kendat-kendat, ti baheula béh ditueun baheula, tug tepi ka ajeuna, tur tepi ka jaga béh ditueun jaga, disébut atawa téé disébut ku sungut téh tetep kitu baé, teu gumélar karana panyebut, tur teu butuh ku disebut, ajana téh enya, nyata, pérmana.
Ungeling Q u r ä n: Allah ngajadikeun bumi jeung langit ; samangsa Allah ngajadikeun sawiji-wiji, d j a d i ! harita barang anu dijadikeun téh  k a b u r u  d j a d i.
Saur musanip lantip, dina lebah k u n pindahna kana f a j a k u n  téh teu meunang kaantaraan ku ambekan, maksudna sabda kun jeung fajakun téh dihartianana kudu gancang dina saambekan, malah mun bisa mah nyebutna kudu bareng disakalikeun, tapi pimanaeun, kuma bisana engang opat disebut disakalikeun ku sungut hiji, ngan urang baé kudu asak paham, pang kituna téh bisi aja anggapan  h é u l a  kun batan fajakun, heula kecap ,,jadi” batan jadina jajadian nu dijadikeun.
Di luhur kaula geus prak nyundakeun k u n, padahal s i é u n  teu wani nyundakeun Kurän, malah enya-enyana mah béh ditueun teu wani, pamohalan Kurän bisa disundakeun nu sacéréwéléna ; moal aja hiji jalma nu bisaeun mindahkeun harti saasalna tina basa ieu kana basa séjén ; lain baé tina Kurän, tapi tina basa Sunda ogé moal bisa dipindahkeun h a r t i n a nu sagemblengna kana basa séjén. Geura upama aja omongan kieu.
Éta hui konéng, kacida anéhna, dibubujna hipu, tur raosna pulen semu pelem.
Mangga ku saréréa salin kana basa Jawa atawa basa Walanda, kana basa Malaju at. Inggris  ; salinan téa pasihkeun ka réncang anu pinter tur ahli basa, nyuhunkeun disalin deui kana basa Sunda; tangtu salinanana basa Sunda béda jeung omongan tadi di luhur.
Teu wani téh lain bisi ttdeuha nemahan doraka aja mamalana, kasiku katulah kabadi, tapi ku sabab teu pieun cocog jeung nyatana, moal bisa écés hartina, moal kabedag rasana nu saenya-enyana; kapan sakur rasa moal kabedag ku harti, harti moal kabedag ku basa, basa moal kabedag ku aksara.
Urang Barat réa basa teu karasa. Urang Timur réa rasa tuna basa, nepi kana anyogna tanpa papan tanpa tulis. Komo pisan KALAMULLAH mah tangtu teu aja sawarana teu aja petana, teu aja basana teu aja aksarana. Allah ngadawuhna (upami ngadawuh téa mah) teu ku baham, t é u  n g a n g g o  b a s a.
Moal aja jalma nu nyaho kana dawuhing Allah, jaba ti manusa nu keur dibuka hijabna.
Ari Kurän, puguh aksarana, puguh basana, hideung mangsina, pasagi kitabna. Ku sabab kitu, basa nu aja dina Kurän, lahiriahna omongan manusa ku basa Arab, ngan pamugi ulah lepat paham, éta Kalamullah diraraga aksara Arab téh ngandung basa kanyataan.
Geura ieu: wa likulli ummatin ajalun; faidza jää ajaluhum, la jasta’chiruna sa’atan wa la jastakdimun.
sarta masing-masing umat kawengku ku ajal ; samangsa geus nepi kana ajalna, teu bisa mundur teu bisa maju saeutik ogé.
Tah omongan Sunda kitu téh sanajan jauh teu saupama ogé, beunang nyalin tina basa Kurän, ngandung maksud nerangkeun  k a a j a a n  jén masing-masing umat téh kawengku ku a d j a l, jeung lamun g é u s  ajal, teu bisa mundur teu bisa maju.
Ieu basa Kurän lain harus dina sungut wungkul, tapi ngandung  k a n j a t a a n  téa, sabab saméméh turun Kurän ogé, sakabéh umat, para Nabi para déwa para pandita sarta jaba ti dinya nu hirup baheula, kabéh kawengku ku ajal, aja paéhna, jeung samangsa g é u s paéh h a r i t a  paéh. Najan upamana bisa hirup deui ogé, paéh nu tadi mah teu bisa dipupus deui.
Kaajaan dina kanyataan ti baheula nepi ka ajeuna, jén sakabéh umat keuna ku a d j a l  téh, teu maké basa teu maké aksara, kitu baé satulujna, kapanggih kaharti ku manusa, nya tuluj dibasakeun : Sakabéh umat keuna ku ajal (ajeuna mah puguh basana, basa Sunda, aksara Latén).
Ku sabab éta, Kurän disébut kitab luhung, teu bisa dibantah, sabab ngandung Kalamullah nu cocog téa dieung kanyataan.
Ngandung di dinya téh ulah dihartian saperti ngandung duit, tapi saibarat ngandung gula ngandung amis.
PUN anak nu pangleutikna ceurik, sukuna raheut titajong; ditanya
ku lanceukna: Titajong kana naon?
Jawabna: Titajong kana seukeut.
Hih, lain kana seukeut atuh, ka nu seukeut kituh!
Cék pamanna: Salah éta basa téh; seukeut mah kaajaanana, kaajaan paku nu katajong; jadi kuduna: Titajong kana paku anu seukeut.
Kadéngé ku tatanggana: Éta gé salah kénéh baé, da paku ogé kaajaanana, nya éta kaajaan beusi nu keur ngabangun paku, huluan seuseukeutan ; kuduna pibasaeunana : Titajong kana beusi nu keur ngabangun paku.
Mun kadéngé ku ahli kimia, meureun milu nyambungan: Éta ogé salah kénéh ! Pibenereunana mah : Titajong ka nu beusi. Sabab beusi ogé lain barang nu saéstuna, kaajaan kénéh baé, nya éta kaajaan ,,atoom” nu mangrupa beusi.
Ana kadéngé ku ahli usul, meureun dina manahna: Kabéh gé sarua benerna, hartina sapuguhna-sapuguhna, nurutkeun sapamanggih rasana dina alam sakelas-sakelasna, da ari enyana pisan mah atum ogé kajajadén kénéh.
Seukeut sotéh ngaraheutkeun, sarta sanggeusna ngaraheutan; méméhna mah piseukeuteun, paku ngaranna. Paku sotéh sanggeusna maku, méméhna mah pipakueun, beusi ngaranna. Beusi gé sanggeusna ngaguruntul, méméhna mah atum. Kieu sotéh sanggeusna rigatum, méméhna mah piatumeun, naon mah pingaraneunana, cék urang kanpung mah: Duka teuing!
Tah Duka Teuing téh basaning urang kampung nu sok katotol bodo, cenah; teu cara urang nagara boga kecap Aéioma, atawa cék ahli santri ngabogaan dalil Gaib. Aéioma basa batur. Gaib basa batur kénéh baé, duanana siga luhureun Duka Teuing, padahal mah sarua kénéh.
Sok mindeng basa dirarampa dikira-kira ; jol cenah sesebutan kirata, asal dikira-kira nyata. Siga alus lebah dinyana mah, ngan inggis bisi katutulujan méngpar lina bener.
Ahli palasipah baheula, nu geus meunangkeun ku élmuna, rasiah sajatina aya, geus nuliskeun panemuna ku basa biasa nu sok dipaké ku jelema ahli dunya. Ana prak dibaca diaji ajyeuna ku anak-incuna nu lain ahli mikir, lain ahli rasa, tangtu ti dituna kénéh gé geus patenggang pasalia jalan, pasalia paham. Nu matak rébuan taun nepi ka ajeuna teu weléh-weléh nu cékcok, maduan paham, mahaman kabatinan, diukurkeun kana awakna sorangan ; nakér béas ahérat ku gantang dunya, tangtu moal kawadahan.
Nyaritakeun basa kaula pribadi. Upama kaula ngomong ku basa Sunda: Témbok bodas.
Éta kecap Témbok Bodas, basaning basa, basaning sungut kaula nu puguh basana (Sunda).
Tapi itu mah, tuuuh, itu témbok nu bodas, ngomong téh teu maké basa. Éta témbok ngomongna teu maké basa Sunda atawa séjén basa, ujug-ujug kaharti baé ku pangartian, cenah: témbok bodas. Ajeuna mah geus jadi omong kaula, basa Sunda.
Tangtu pisan basa kaula mah dina lebah nyebut témbok bodas téh geus kapiheulaan ku bodasna témbok; teu cara Sang Témbok ngomongna Témbok Bodas téh bareng pisan teu heula-pandeurieun jeung buktina, nya éta jeung bodasna témbok.
Lalangsé kahanan jati ti baheula dugi ka ajeuna teu aja nu kersaeun muka ; pamali disebut teu bisaeun mah. Dibuka lalangséna tangtu mendak lalangsé nu kadua, dibuka nu kadua tangtu mendak nu katilu, satulujna kitu baé tepi ka galihna pisan moal papendak jeung galih nu macakal, mun tacan ,,uninga” di la1angséna.
Aja nu nyoba dina buah samangka, rupana héjo, dikerik nepi ka béak héjona, kapendak jeung bodas; éta bodas rupa kénéh baé ; diteruskeun dipesék, kapendak reujeung beureum ; ieu beureum nya rupa kénéh baé; ditéruskeun mesékna hajang pinanggih jeung samangka nu sajatina ... dugi ka ledis teu kapanggih.
Cék nu mesék: Sihoréng Samangka mah kandel cangkangna!
Tadi ogé geus dibalibirkeun, kahanan jati mah kahanan nu teu katingal ku pancadria. Asa kacida écésna, kari wani ngaganti harti basana.
Leuleutikan kacang goréng, teu kaci dipangmesékkeun batur digundukkeun, sok leungit sarina ; teu cara dipesék ku sorangan, najan rada hésé, ngérékés katuang jeung sora-sorana.
Sabalikna sok gedé mamalana, mun lalawora téh sawan kuja, sawan dina carita, getol dina mesékna teu ngingétkeun sisibatanana, marukan beunang ku kitu ; mun kurang minyak kalapana murak nangka gé anggur angguratel geutahna; siga dongéng baheula, aja budak bisa jeung wani ngarakrak érloji bapana, maksudna nerangkeun ka bapana naon sababna érloji bisa hirup, bisa nuduhkeun waktu ka manusa. Sangeusna brak dibuka, sawan kuja, teu bisa nerapkeun deui cara tadi, buntu laku sakabéhna, érloji paéh nepi ka ajeuna.
Tapi da moal sagala nu bisa ngomong ieuh kumalancang ngaréka nu kieu. Jadi dipaké wani ulah, dipaké horéam ulah ; da engké ogé ana geus ninggang mangsana mah, dangiang lugaj sorangan, waruga rinéka ku manéh.
Dina harti atoom ogé nya kitu. Aéioma, Gaib jeung Duka Teuing saharti, tapi teu sakomara ; sabab béda bibit gumelarna. Ahli mikir ogé teu saukuran hartina jeung Ahli Tafakur.
Upama harti atoom ngadegna dina kajasmanian, sarta ku nu néangan disingraj-singrajkeun, susuganan di béh-ditueunana aja Rasiah nu keur ditéangan téa, pikajadieunana mo béda jeung dongéng nu ngerik samangka tadi; lamun teu kapendak di nu héjona, hamo kapanggih najan ditéangan ka jerona ogé.
Saha-saha nu néangan sajatina bola, embung nényo nerus buleudna, hamo pinanggih reujeung nu ditéangan.
Aja deui mamalana ngaréka-wacana téh ; éta ana tétéla teuing pokna, nyata teuing adég-adegna dina pangucap, sok matak génylong jagatraya, sok gumuruh hujan silantang, mindéng dadak-dadakan samagaha, teu kabadanan, hajang caang burung padang. Tapi ari teu atra, sok nyamut. Anu matak susah ogé.
Tapi pasal rasaning kecap, teu pati hadé disawalakeun, kawantu perkara rasa mah ilaharna tara sarua téa, komo teu hadéna ana nu sawalana baroga udagan hajang meunang padu mah, sok hésé capé té kapaké, susah pajah hapa buah.
Ulah kéna basa Sunda beunang digolong-gorol ! kapan geus kaustara : mun basa Arab, arabaneun deui ; mun basa Hindu, hinduaneun deui. Mana kitu ogé temah-wadi ti dituna, ti nu boga ajianana.
Ngaji poék, nya urang jejewét baé, disiksik wanci janari, diawurkeun sok jadi baranang siang, pupuleun anu rahaju.
Minangka jadi panyéépanana alaming nu ngabujangga, tanpa papan tanpa tulis ; kari gurat cakrawala, uninaka lilanakeun.
Jadi papaés pangambéng lambé téh, kapakéna ku Sunda anu alus mawat. Hég dihaleuangkeun di reureuhna, sanggeus seubeuh manggih euweuh, euweuh nu pangeuweuh-euweuhna. Meujeuhna baé dijugjug ka gunung suwung, disungsi ka pasir suni ogé, da nu néangan, néangan anu néangan.
Moal amprok jongok ! Leuleus lungsé, tanaga béak di jalan, gawéna aéh-aéhan, tulujna mah : ka Banjaran.
Ku sab éta, panglembut-lembutna anu badag mah ngan saukur lelembut kabadagan. Sok dituding disarangka Élmu Kabatinan, padahal kabéh-kabéh kalahiran, nu hiji lahiring lahir, hiji deui batining lahir, nu hiji deui lahiring batin.
Prung cumatur, patepung di alam hiji, basana mah éta kénéh éta kénéh, ngan rasana, itu mah lumungsur turun, ieu mah ngarangkél naék ; nya katelah sabasa henteu sarasa.

Bapa Kolot


[1] Asalna dimuat dina Sipatahoenan. Dimuat deui dina Budaya Basa Sunda, No. 16 (Kaca23-26) jeung No. 17 (Kaca 24-26). Wawaran Djawatan Kabudajan Djawa-Kulon, Kamantren P.P.& K. No. 16