Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Puisi Sunda

Téddi Muhtadin
Sapanjang néangan kidul, kalér deui kalér deui, sapanjang néangan wétan, kulon deui kulon deui, sapanjang néangan aya, euweuh deui euweuh deui.
Sepanjang mencari selatan, hanya utara yang kujumpa, sepanjang mencari timur, hanya barat yang kujumpa, sepanjang mencari ada, hanya tiada yang kujumpa.
(Haji Hasan Mustapa)
Puisi adalah istilah baru yang digunakan untuk menandai bentuk-bentuk sastra yang sudah terlebih dahulu ada. Istilah puisi baru dikenal dalam khasanah kesusastraan Sunda sekitar awal abad ke-20, yakni saat sarjana-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra berdasarkan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi pada hakikatnya adalah monolog, drama adalah dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya.  Penjelasan lain yang lebih khusus, dalam Kamus Istilah Sastra (1992)…

Sajak, Sayudi, Sunda

`           TéddiMuhtadin Abstrak Dalam perkembangan sajak Sunda nama Sayudi tidak bisa diabaikan. Ia bukan orang pertama yang menulis sajak, tetapi dialah yang mampuh menulis sajak Sunda dengan sangat baik dan berhasil mengumpulkannya dalam sebuah buku berjudul Lalaki di Tegal Pati (1966). Keberhasilan Sayudi dalam penulisan sajak Sunda terletak pada dua hal, yakni (1) penguasaan yang mendalam atas kekayaan puisi Sunda dan (2) kepekaan menangkap pensoalan zamannya.Berbeda dengan Chairil Anwar yang penulis sajak Indonesia dengan keterputusan, Sayudi justru menulis dengan keterhubungan  yang jelas pada tradisi sebelumnya. Sayudi berpengaruh besar pada trasidi penulisan sajak Sunda berikutnya. Dengan cara seperti ini Sayudi dianggap bagian dari para pejuang renaisans kepribadian Sunda.
Purwacarita Berkaitan dengan dinamika persajakan Sunda sejak tahun 1950-an, Sayudi adalah sebuah nama yang tak mungkin diabaikan. Meskipun ia bukan orang yang pertama menulis sajak dalam bahasa Sunda, tetapi …