Rabu, 24 April 2013

Puisi Sunda


Téddi Muhtadin

Sapanjang néangan kidul,
kalér deui kalér deui,
sapanjang néangan wétan,
kulon deui kulon deui,
sapanjang néangan aya,
euweuh deui euweuh deui.

Sepanjang mencari selatan,
hanya utara yang kujumpa,
sepanjang mencari timur,
hanya barat yang kujumpa,
sepanjang mencari ada,
hanya tiada yang kujumpa.

(Haji Hasan Mustapa)

Puisi adalah istilah baru yang digunakan untuk menandai bentuk-bentuk sastra yang sudah terlebih dahulu ada. Istilah puisi baru dikenal dalam khasanah kesusastraan Sunda sekitar awal abad ke-20, yakni saat sarjana-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra berdasarkan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi pada hakikatnya adalah monolog, drama adalah dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya. 
Penjelasan lain yang lebih khusus, dalam Kamus Istilah Sastra (1992) yang disusun oleh Iskandarwassid, dikatakan bahwa puisi adalah bentuk karangan yang berirama serta terikat dalam bentuk dan diksinya. Menurut Iskandarwassid puisi biasanya dibedakan dengan kalimat dalam bahasa sehari-hari dan dengan prosa. Dalam kamus tersebut dijelaskan pula bahwa puisi menggunakan bahasa yang khas, yang mencakup pilihan kata, frase, dan perbandingan yang seringkali tidak ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Selanjutnya dijelaskan bahwa puisi mengutamakan konotasi, menciptakan frase baru, irit kata, dan hanya deskripsi, sehingga seringkali samar.
Berdasarkan pengertian puisi tersebut saya berusaha menjawab empat pertanyaan, yaitu (1)  bentuk-bentuk karya sastra Sunda apa sajakah yang biasa dikelompokkan ke dalam puisi? (2) sejak kapan puisi dikenal dalam kesusastraan Sunda? (3) bagaimana pertautan antara puisi Sunda dengan puisi-puisi Nusantara dan dunia? Dan, (4) bagaimana perkembangan puisi Sunda kini?

Bentuk Puisi Sunda
Bentuk puisi Sunda , menurut Iskandarwassid (1992), dapat dibedakan berdasarkan waktu dan narasinya. Berdasarkan waktunya puisi Sunda dibedakan antara puisi lama atau tradisional dengan puisi baru atau modern. Puisi tradisional Sunda kemudian terbagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu (1) puisi berbentuk cerita dan (2) puisi yang tidak berbentuk cerita. Termasuk ke dalam puisi berbentuk cerita adalah pantun dan wawacan. Termasuk ke dalam puisi yang tidak berbentuk cerita ialah mantra (jangjawokan, singlar, jampé, asihan), sisindiran (rarakitan, paparikan, wawangsalan), kakawihan (barudak), dan sa’ir (pupujian, sawér, dst), pupuh (dangding, guguritan). Dan, yang termasuk puisi baru adalah sajak.
Sejalan dengan Iskandarwassid adalah pendapat Maryati Sastrawijaya. Kedua ahli ini membagi puisi Sunda ke dalam dua kelompok yakni puisi tradisional dan puisi modern. Namun, dalam hasil penelitiannya Maryati Sastrawijaya (1995: 45) menemukan bahwa puisi Sunda itu memiliki 18 jenis, yang terdiri atas 12 puisi tradisional dan 6 jenis puisi modern. Termasuk ke dalam jenis puisi tradisional itu ialah mantra, kakawihan barudak, sisindiran, sawér, pantun, gondang, sa’ir, pupujian, wawacan, babad, guguritan, dan wawangsalan. Dan, yang termasuk ke dalam jenis puisi modern ialah sajak, drama puisi, gending karesmén, jemblungan, rumpaka kawih, dan rumpaka tembang cinjuran.
Selain Iskandarwassid dan Maryati Sastrawijaya yang membicarakan puisi Sunda adalah Ajip Rosidi. Termasuk ke dalam puisi Sunda ini, menurut Ajip Rosidi (2007: 5) adalah bentuk-bentuk karya sastra yang terdapat dalam naskah kuno, jangjawokan, pantun, sisindiran, pupujian, sawér, guguritan, wawacan, gending karesmén, tembang, kawih, sajak, dan drama berbentuk sajak.
Menurut hemat saya pengelompokkan bentuk-bentuk puisi yang dilakukan Iskandarwassid lebih mendasar dibandingkan dengan pengelompokkan oleh Maryati Sastrawijaya dan Ajip Rosidi. Akan tetapi, pembagian dari Maryati Sastrawijaya dan Ajip Rosidi juga penting untuk melihat pengembangan kreativitas dari bentuk dasar puisi Sunda. Dibandingan dengan pengelompokkan Iskandarwassid dan Ajip Rosidi, dalam pengelompokkan Maryati Sastrawijaya muncul jenis puisi  gondang, babad, jemblungan. Adapun yang menarik dalam pengelompokkan Ajip Rosidi adalah munculnya puisi yang tercatat dalam naskah Sunda kuno.
Dengan demikian puisi Sunda dapat dilihat dari bentuk dasarnya yaitu naskah, pantun,  mantra, sisindiran, kakawihan, sa’ir, pupuh, dan sajak. Yang dimaksud dengan naskah ialah puisi Sunda seperti yang terdapat di dalam naskah-naskah Sunda kuno. Puisi-puisi tersebut berisi cerita yang ditulis dalam bentuk puisi anusbuth, puisi dengan delapan suku kata pada setiap lariknya. Bentuk puisi dalam naskah Sunda kuno ini dapat dibandingkan dengan bentuk puisi lisan pantun. Baik puisi dalam naskah Sunda kuno maupun pantun disusun dalam pola larik delapan suku kata.
Contoh yang dikutip dari naskah “Para Putera Rama dan Rawana”:
Ongkarana sangtabéan.
Pukulun sembah rahayu.
Aing dék nyaksi ka beurang,
Aing dék nyaksi ka peuting,
candra wulan aditia,
deungeun sanghiang akasa,
kalawan hiang pretiwi,
ka batara Nagaraja,
ka nusia Awak Larang,
ka luhur ka sang Rumuhun,
nusia Larang di manggung.

Mantra merupakan puisi tradisional yang berisi “doa” agar keinginan terlaksana atau terhindar dari marabahaya. Menurut Iskandarwassid (1992) puisi mantra biasanya dibentuk dalam larik-larik yang memerlukan irama dalam melisankannya. Ciri-ciri puisi dalam mantra ini, di antaranya, adalah rima yang kuat dan repetisi. Termasuk ke dalam puisi mantra ini adalah jajampéan, jangwawokan, parancah, singular, dan asihan.
Contoh:
Asihan Si Taruk Gadung
Sasoéh nu matak léwéh
Salambar nu matak édan
Saciwit nu matak ceurik
Nyeungceurikan aing kakasih
Ya hu ya hu ya Allah.

(R. Kartawinata, Golat, Panjalu, 1973)

Sisindiran sama dengan pantun dalam kesusastraan Melayu, yakni bentuk puisi yang dibangun dengan cangkang (sampiran) dan eusi (isi). Jika hubungan antara cangkang dan eusi hanya ditautkan oleh kemiripan rima maka sisindiran tersebut disebut paparikan. Tetapi, jika kata awal pada larik pertama cangkang diulang pada larik pertama eusi dan larik kedua dan seterusnya pada cangkang diulang pada larik kedua dan seterusnya eusi, sisindiran tersebut dinamakan rarakitan. Selain rarakitan dan paparikan dikenal pula wawangsalan yang pertautan antara cangkang dan eusi-nya ditentukan oleh sebuah kata yang mesti ditebak.
Contoh sisindiran:
Saninten buah saninten,
saninten di parapatan.
Hapunten abdi hapunten,
bilih aya kalepatan.

Contoh wawangsalan:

Teu beunang di hurang sawah,
teu beunang dipikameumeut. (simeut)

Sa’ir atau syair dalam bahasa Indonesia adalah bentuk puisi yang berasal dari kesusastraan Arab. Umumnya terdiri atas empat larik dan pada setiap lariknya dibangun dalam delapan suku kata, dan bersajak akhir a-a-a-a.
Contoh sa’ir:
Regepkeun ieu pépéling,
hirup kudu loba éling,
sabab ajal pasti datang,
urang moal bisa mungpang.

Sing inget kana papastén,
hadé goréng urang yakin,
éta kabéh paparinan,
Allah anu hakkul yakin.

Pupuh adalah rakitan puisi (Iskandarwassid, 1992: 115-116) yang terikat dalam aturan-aturan, baik bentuk maupun isinya. Bentuknya terikat pada jumlah larik pada setiap bait dan pada banyaknya suku kata bunyi vokal akhir pada setiap lariknya. Isinya terikat pada karakter pupuh seperti sedih, gembira dsb. Jumlah pupuh yang dikenal dalam sastra Sunda ada 17 yaitu asmarandana, balakbak, dangdanggula, jurudemung, durma, gambuh, gurisa, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong. Aturan-aturan pada pupuh berkaitan erat dengan lagunya. Setiap pupuh memiliki lagu yang berbeda dengan pupuh yang lain. Berdasarkan frekuensi pemakaiannya ada yang disebut pupuh/ sekar ageung (besar) dan pupuh/sekar alit (kecil). Disebut pupuh ageung karena sering digunakan, sebaliknya disebut pupuh alit karena jarang digunakan. Empat pupuh yang termasuk sekar ageung yaitu asmarandana, dangdanggula, kinanti dan sinom, sedangkan 13 pupuh sisanya dikategorikan sebagai sekar alit.
Contoh pupuh kinanti:

Sapanjang néangan kidul,
kalér  deui kalér deui,
sapanjang néangan wétan,
kulon deui kulon deui,
sapanjang néangan aya,
euweuh deui euweuh deui.

Sajak ialah bentuk puisi yang tidak terlalu terikat (Iskandarwassid, 1992: 130). Oleh karena itu pada saat kemunculannya pada awal tahun 1950-an sajak biasa disebut sajak bebas. Tentu saja, dikatakan tidak terikat atau bebas di sini jika dibadingkan dengan pupuh yang tingkat keterikatannya lebih kuat. Ketika sajak muncul puisi pupuh sangat dominan. Sebenarnya, menurut Iskandarwassid, sajak pun masih terikat dengan konvensi puisi, misalnya diksi dan rakitan kata-katanya.
Contoh sajak karya Ganjar Kurnia:
 Sora bedil lodong nu ngabeledag
neumbag jajantung
muncratkeun
daki-daki kalaipan
ngabudalkeun cimata mendet
ngabanjiran diri
tilelep – laput
ka tungtung buuk

aleu-aleu sora walilat
kawas ngaléléwé

unggal lebaran
cimata deui
cimata deui

ti lebaran ka lebaran
nyolédat deui
nyolédat deui

kertas kapitrahan
nu diilo dibulak-balik salila ied
belewuk pinuh kokotor

lapar puasa
ditambah ibadah (nu belang betong)
teu ngabual
hutang dosa sataun jeput

sataun deui
jeprut!

Dari bentuk dasar puisi kemudian tercipta bentuk-bentuk puisi yang lebih besar. Misalnya dari pupuh dapat menjadi guguritan atau wawacan. Jika beberapa pupuh bergabung dan membentuk sebuah cerita maka puisi tersebut disebut wawacan. Jika ceritanya merupakan cerita historis maka wawacan tersebut disebut babad. Tetapi, jika hanya satu bentuk pupuh yang digunakan untuk menceritakan sesuatu atau keadaan maka biasanya puisi tersebut disebut guguritan. Puisi pupuh yang indah dalam bentuk guguritan di antaranya ditulis oleh Haji Hasan Mustapa. Puisi pupuh dalam bentuk wawacan di antaranya ditulis oleh R. Suriadiredja dengan judul Wawacan Purnama Alam.
Pupuh dapat pula bergabung dengan sisindiran, drama, atau seni suara. Oleh karena itu, dalam khazanah sastra Sunda dikenal sisindiran pupuh, gending karesmén atau tembang. Bentuk yang lain juga sama. Sajak dapat bergabung dengan drama menjadi drama bersajak. Sa’ir dapat menjadi nadoman atau sawér, dst.

Awal Puisi Sunda
Menurut perkiraan puisi Sunda berawal dari puisi tradisional atau lebih tepatnya puisi lisan seperti sisindiran, kakawihan, atau mantra. Perkiraan ini muncul karena di dalam kenyataan sastra lisan mendahului sastra tulisnya, sebagaimana bahasa lisan mendahului bahasa tulisnya. Akan tetapi, seperti pernah dijelaskan oleh Ajip Rosidi, puisi-puisi lisan tersebut baru dicatat oleh para sarjana Belanda pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, Ajip Rosidi menentukan awal puisi Sunda dari eksistensinya di dalam naskah Sunda kuno.
Berkaitan dengan hal ini ada satu buku yang patut dicatat, yaitu buku Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) yang ditulis oleh  J. Noorduyn dan A. Teeuw. Buku tersebut membahas secara filologis tiga puisi dalam naskah sunda kuno yang ditulis pada abad ke-16, yaitu Para Putra Rama dan Rawana, Pendakian Sri Ajnyana, dan Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah.
Selain itu, Undang Ahmad Darsa dalam disertasinya yang berjudul “Sewaka Drama dalam Tradisi Sunda Kuno Abad 15-17” (2012) juga membahas salah satu puisi Sunda kuno yang paling berpengaruh yaitu Séwaka Darma.
Dengan melihat kemunculan awal puisi Sunda dalam naskah-naskah Sunda kuno ini, paling tidak umur puisi Sunda itu hingga sekarang sudah lebih dari lima abad.

Pertautan
Jika kita cermati puisi Sunda seperti yang tersurat di dalam naskah-naskah Sunda kuno maka kita akan melihat pertautan puisi tersebut dengan bentuk sastra yang berasal dari India. Bukan hanya ceritanya yang merupakan terjemahan dari khazanah sastra India, namun bentuk nya pun menggunakan pola delapan suku kata pada setiap lariknya. Bentuk puisi efik ini ini dapat kita bandingkan dengan  puisi pantun. Undang Ahmad Darsa pernah mengatakan bahwa hubungan pantun dengan naskah ini bisa diibaratkan dengan karya sejarahwan dan sineas.
Sisindiran bertaut dengan bentuk-bentuk puisi pantun dalam sastra Nusantara. Sa’ir bertaut dengan sastra Arab. Pupuh bertaut dengan sastra Jawa. Sajak bertaut dengan sajak Indonesia dan dunia pada umumnya.
Dilihat dari sudut pandang ini sastra Sunda bukanlah sastra yang terkucil namun merupakan bagian dari sastra Nusantara bahkan dunia.

Puisi Sunda Kini
Dalam sastra Sunda, bentuk puisi yang satu tidak mengalahkan bentuk puisi yang lain. Bentuk puisi yang satu berjalin berkelindan dengan bentuk puisi yang lain. Akan tetapi, tentu saja, selalu ada bentuk puisi yang menonjol dari bentuk puisi lainnya.  
Puisi-puisi dalam naskah Sunda kuno satu per satu telah dialihaksarakan ke dalam huruf Latin dan dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu menjadikan naskah sunda kuno mulai dapat dipahami isinya. Menurut cacatan Undang Ahmad Darsa (2011: ) ada 14 naskah Sunda kuno berbentuk puisi yang sudah dikerjakan oleh para sarjana, di antaranya, ialah Séwaka Darma, Carita Ratu Pakuan, Carita Purnawijaya, Kawih Paningkes, Jatiraga, Darmajati, dan Sang Hyang Raga Dewata.
Puisi-puisi mantra dan pantun masih diamalkan dalam kehidupan, terutama di desa atau di kampung adat. Di desa Kanekes atau yang lebih popular disebut Baduy, puisi mantra dan pantun masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Begitu pun di kampung adat lain seperti Ciptagelar, Sirnarasa, Kampung Dukuh atau Kampung Naga. Masyarakat di desa dan kampung-kampung tersebut masih sangat erat berhubungan dengan kehidupan alamnya. Padi yang merupakan makanan pokok dihormati sebagai penjelmaan dari Dewi Sri.
Puisi sa’ir masih terdengar dilantunkan dari corong pengeras suara mesjid di desa-desa. Puisi ini merupakan bgaian dari tradisi pesantren. Tahun 2011 Ajip Rosidi meluncurkan buku antologi Puisi Pupujian. Hasil penelitian Tini Kartini dkk. berjudul Puisi Pupujian dalam Bahasa Sunda terbit tahun 1986. Dengan diberi judul nadoman R. Hidayat Suryalaga menulis ribuan sa’ir yang menjadi pelengkap saritilawah Al-Qur’an dalam bentuk pupuh yang telah terbit terlebih dahulu. Sa’ir-sa’ir karya R. Hidayat Suryalaga yang telah terbit di antaranya Nadoman Nurul Hikmah Daras 1 (2003), Nadoman Nurul Hikmah Daras 1, 2,3 (2003), Nadoman Nurul Hikmah Daras 30 (2004), dan Nadoman Nurul Hikmah Daras 4, 5 (2006).
Puisi pupuh juga masih hidup. Ajip Rosidi menerbitkan antologi Guguritan dan Wawacan (2011) sebagai bagian dari Puisi Sunda. Dyah Padmini menulis kumpulan puisi Jaladri Tingtrim: Kumpulan Dangding (2000) dan mendapat hadiah Rancage. R. Hidayat Suryalaga menerbitkan buku Nur Hidayah: Saritilawah Basa Sunda Al-Qur’an winangun Pupuh (2000). Sisindiran atau dalam sastra Melayu juga masih ditulis. Setidaknya ada dua buku yang terbit pada tahun 2011 yaitu Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar (2011) karya Dedy Windyagiri dan Sisindiran (2011) karya Adang S.
Puisi tembang dan kawih juga masih hidup dan terus diciptakan. Tembang Sunda Cianjuran dan lagu-lagu pop Sunda masih diminati. Selalu ada penerus dalam kedua puisi tersebut.
Gending karesmén yang agak langka. Karena bentuk puisi ini terikat dengan pementasannya. Pementasan gending karesmén ini sangat langka karena membutuhkan kemampuan seni suara, musik, dan seni peran. Namun bukannya tidak ada.
Yang paling banyak ditulis dan dipublikasikan tentu saja adalah sajak. Sejak kemunculannya di tahun 50-an sajak Sunda sudah lebih dari 40 buku yang terbit dan Ajip Rosidi dalam buku Sajak Sunda (200) mencatat tidak kurang dari 130 penyair. Tentu tidak semua penyair tercatat dalam buku tersebut. Umumnya sajak-sajak yang dimuat dalam antologi tersebut, terlebih dahulu dimuat di media massa cetak berbahasa Sunda baik koran atau majalah. Media yang kini masih memuat puisi-puisi Sunda tersebut di antaranya Manglé, Galura. Cupumanik, Ujung Galuh, dan Sunda Midang.
Sejak kemunculan para pionir sajak Sunda selanjutnya selalu diikuti dengan kemunculan penyair berikutnya. Setelah generasi KTS dan Kis Ws, Sayudi dan Ajip Rosidi, muncul generasi Rachmat M. Sas Karana, Abdullah Mustappa, Godi Suwarna, Etti R.S, Acep Zamzam Noor, Hadi AKS, Chye Retty Isnendes, Nunu Nazaruddin Azhar, Deni Ahmad Fajar, Dian Hendrayana, Dede Syafrudin, Eris Risnandar, hingga penyair Ari Andriansah.
Selain adanya media tempat pemuatan, yang memungkinkan sajak Sunda berkembang ialah karena adanya lembaga baik negeri maupun swasta dan perseorangan yang memberi dukungan kepada pertumbuhan puisi Sunda.
Bagi penyair sastra Sunda yang mujur bisa saja ia memperoleh hadiah berkali-kali. Misalnya ia mendapatkan hadiah untuk sajaknya yang diikutkan dalam perlombaan. Ketika sajak itu dimuat dalam majalah Manglé bisa saja sajaknya mendapat hadiah bulanan. Dan bisa saja sajak tersebut mendapat pula hadiah dari LBSS yang dibetikan setiap tahun. Jika sajak-sajak ibukukan, mungkin saja ia mendapat Hadian Sastra Rancagé.



Pamungkas
Dalam sastra Sunda, yang dimaksud dengan puisi tidaklah tunggal, tetapi jamak. Puisi Sunda mencakup bentuk-bentuk puisi naskah, jangjawokan, pantun, sisindiran, pupujian, sawér, guguritan, wawacan, gending karesmén, tembang, kawih, sajak, dan drama berbentuk sajak.
Menurut perkiraan puisi Sunda tertua adalah puisi lisan, dengan asumsi bahwa keberadaan bahasa dan sastra lisan mendahului bahasa dan sastra tulis. Akan tetapi, data yang ada menunjukkan bahwa puisi lisan tersebut pada umumnya baru ditulis pada awal abad ke-20. Oleh karena itu, tonggak awal puisi Sunda dirujuk pada naskah yang terbit pada abad 15.
Melihat bentuk-bentuk puisi Sunda kita melihat pertautannya dengan pengaruh sastra yang lain. Puisi-puisi yang ditulis dalam naskah memperlihatkan kuatnya pengaruh Hindu-Budha dan kebudayaan India, yaitu bentuk puisi anusbut atau delapan suku kata. Pupujian dan sawer memperlihatkan kuatnya pengaruh sastra Arab terutama. Dalam guguruitan, wawacan, tembang pengaruh Jawa cukup kuat. Dan dalam puisi sajak pengaruh sastra Indonesia dan Barat juga kuat. Dengan demikian membaca puisi Sunda juga sekaligus membaca jejak puisi dunia.
Bentuk-bentuk puisi Sunda itu masih hidup dan terus dihidupkan. Puisi-puisi dalam naskah kuno masih terus dibaca oleh para sarjana sastra Sunda, pupujian masih terdengar dari corong pengeras suara mesjid, kawih dan tembang masih didendangkan, sajak Sunda masih ditulis, dibacakan, dilombakan dan diterbitkan. Semua itu tidak terlepas dari keberadaan lembaga pendidikan, penelitian, sanggar, dan masyarakat sastra yang memiliki kecintaan dan dedikasi yang tinggi terhadap perkembangan puisi Sunda.
Masih banyak yang belum dibicarakan dalam tulisan ini, namun sebagai pengantar diskusi saya cukupkan sekian.

 







Daftar  Pustaka

Darsa, Undang Ahmad. 2011. Kodekologi Sunda: Sebuah Dinamika Identifikasi dan Inventerisasi Tradisi Pernaskahan. Bandung.
----------------------------. 2012. “Séwaka Darma dalam Naskah Tradisi Sunda Kuno Abad XV-XVII Masehi”. Disertasi. Bandung: Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.
Iskandarwassid. 1992. Kamus Istilah Sastra: Pangdeudeul Pangajaran Sastra Sunda. Bandung: Geger Sunten.
Noorduyn, J. dan A. Teeuw. 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan, Tien Wartini dan Undang Ahmad Darsa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rosidi, Ajip. 2007. Sajak Sunda: Puisi Sunda Jilid III. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Sastrawijaya, Maryati. 1995. “Aneka Puisi Sunda” dalam Edi S. Ekadjati, Ade Kosmaya dan Wilson Nadeak. Nusa, Bangsa dan Bahasa. Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran dan Yayasan Pustaka Wina. Hlm. 45-55.

Disampaikan dalam Seminar Internasional dan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN)-VI Jambi 2012 dan dimuat dalam buku Mengangkat Batang Terendam (Dewan Kesenian Jambi, 2012). 

Selasa, 23 April 2013

Sajak, Sayudi, Sunda


`          
Téddi Muhtadin
Abstrak
Dalam perkembangan sajak Sunda nama Sayudi tidak bisa diabaikan. Ia bukan orang pertama yang menulis sajak, tetapi dialah yang mampuh menulis sajak Sunda dengan sangat baik dan berhasil mengumpulkannya dalam sebuah buku berjudul Lalaki di Tegal Pati (1966). Keberhasilan Sayudi dalam penulisan sajak Sunda terletak pada dua hal, yakni (1) penguasaan yang mendalam atas kekayaan puisi Sunda dan (2) kepekaan menangkap pensoalan zamannya.Berbeda dengan Chairil Anwar yang penulis sajak Indonesia dengan keterputusan, Sayudi justru menulis dengan keterhubungan  yang jelas pada tradisi sebelumnya. Sayudi berpengaruh besar pada trasidi penulisan sajak Sunda berikutnya. Dengan cara seperti ini Sayudi dianggap bagian dari para pejuang renaisans kepribadian Sunda.

Purwacarita
Berkaitan dengan dinamika persajakan Sunda sejak tahun 1950-an, Sayudi adalah sebuah nama yang tak mungkin diabaikan. Meskipun ia bukan orang yang pertama menulis sajak dalam bahasa Sunda, tetapi ia adalah orang yang paling berhasil menulis sajak Sunda. Dia pula yang pertama kali memiliki kumpulan sajak, yakni Lalaki di Tegal Pati ‘Lelaki di Medan Perang’ (1966).
Karya-karya Sayudi seolah menjadi jalan keluar dari polemik berkepanjangan tentang eksistensi sajak Sunda. Dengan begitu, perdebatan apa pun mengenai hak hidup sajak Sunda menjadi kurang bermakna tanpa menyentuh sajak-sajak Sayudi. Perlu diinformasikan bahwa pada tahun 1950-an telah terjadi polemik yang berkaitan dengan sajak Sunda. Pertama, berlangsung di Majalah Sipatahoenan pada awal tahun 1950-an, kedua terjadi pada majalah Warga pada tahun pertengahan tahun 1950-an. Sayudi sendiri tidak melibatkan diri dalam polemik itu, tetapi berfokus menulis sajak.
Dalam salah satu tulisannya Ajip Rosidi (1966: 98) pernah bertanya mengapa masuknya sajak diperdebatkan, padahal ketika genre novel dan cerita pendek diperkenalkan khalayak pembaca sastra Sunda mereka cenderung menerimanya begitu saja. Padahal, jika diperhatikan bentuk sajak lebih dekat dengan khasanah puisi Sunda, dibandingkan dengan novel dan cerita pendek yang jelas-jelas merupakan hal yang baru. Novel pertama berbahasa Sunda terbit tahun 1914 berjudul Baruang ka nu Ngarora karya D.K. Ardiwinata dan kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda terbit pertama kali tahun 1930, berjudul Dogdog Pangréwong karya G.S.Keduanya diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Menurut hemat saya, perdebatan itu bukan semata-mata karena sajaknya semata, tetapi karena konteks sosial politik yang berkembang saat itu. Pada dedake 1950-an terjadi ketegangan antara daerah dan negara (van Bemmelen dan Raben, 2011). Tak terkecuali di Jawa Barat atau Tatar Sunda. Dalam situasi seperti itu, hal-hal yang berkaitan dengan identitas kedaerahan atau etnisitas kembali tumbuh dengan subur. Apa yang membedakan aku dengan kamu? Bagaimana aku dan kamu hidup dalam negara kita? Dalam konteks sastra orang Sunda bertanya pula, apakah sajak itu asli atau pengaruh dari sastra lain? Genre-genre sastra apa saja yang benar-benar warisan leluhur dan mana yang bukan?

Latar dan Karya Sayudi
Sayudi lahir di Bandung tahun 1932 dan meninggal di Bandung tahun 2000 (Rosidi ed, 2000: 582). Ia lulusan Konservatori Karawitan, Jurusan Sunda. Namun, walaupun berrijazah guru karawitan, ia tidak menjadi guru. Ia bekerja di Kantor Pos Besar Bandung hingga pensiun.
Seperti banyak pengarang Sunda lainnya, pada awalnya Sayudi menulis sajak dan cerpen dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya dipublikasikan di majalah Kisah, Indonesia, dan Puspa Wanita. Tetapi, dalam bahasa Indonesia akhirnya ia hanya menulis artikel, cerita anak, dan naskah oratorium. Adapun sajak ditulis dalam bahasa Sunda.
Selain menulis, Sayudi aktif di BPB (Beungkeutan Pangulik Budaya ‘Ikatan Peneliti Budaya’) Kiwari dan Yayasan Kebudayaan Indonesia di Bandung. Pernah membantu Proyek Penelitian Pantun & Folklor Sunda yang dipimpin Ajip Rosidi, yaitu dalam mentranskripsi cerita pantun Sunda.
Karya Sayudi yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku di antaranya Lalaki di Tegal Pati (1963), Kisah Situ Bagendit (1976), Madraji: Carita Pantun Modérn (1983), Lutung Kasarung (1983), dan Oratorium Bandung Lautan Api (1985).
Sebenarnya Sayudi dibesarkan dalam lingkungan tulis-menulis. Kakaknya yang bernama Sahuri adalah penulis buku kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda, Jakarta Kuring ‘Jakartaku’ dan kakaknya yang lain, Sanaya, adalah penulis esai yang cukup berhasil.
Menurut informasi dari Abdullah Mustappa, Sayudi sudah membaca buku Madilog karya Tan Malaka pada waktu duduk di bangku SMP (Muhtadin, ed, 2000). Hal ini, menurut Abdullah Mustappa menyebabkan analisis dalam esai-esai Sayudi mengenai masalah sosial cukup tajam. 
Atas jasa-jasanya untuk sastra Sunda, Sayudi akhirnya mendapat hadiah sastra Rancagé untuk bidang jasa pada tahun 1994.

Pencapaian dan Pengakuan
Meskipun banyak genre sastra yang ditulis Sayudi, namun yang paling menonjol adalah kecakapannya dalam menulis sajak. Dalam sebuah pengantar untuk buku Madraji: Carita Pantun Modern, yang sebenarnya lebih menyerupai endorsment, Buyung Saleh Puradisastra menulis:
“Teu deuk ngawadul atawa ngarahul, mun dibandingkeun jeung Chairil Anwar, tétéla Sayudi leuwih unggul. Ari anu jadi sabab lantaran Chairil mah ngawakilan méstigo-isme, sanggeus ninggalkeun warisan Malayu jeung Minangkabau téh jadi lieuk euweuh ragap taya. Ari keur Ki Sayudi mah béda deui, sabab keur manéhna mah tradisi Sunda téh can ucul, masih kénéh mangrupa rajakaya jiwana, anu terapna ngalemah pageuh teu kaendagkeun ku pangbibita deungeun.  Ku sabab kitu, puisi-puisi Ki Sayudi mangrupa hiji pangwangun anyar (reshaping) titinggal karuhun. Ieu téh kacida pentingna, sabab kabudayaan disawang tina jihad karohanian mah mangrupa prosés anu sambung-sinambung henteu pegat-pegat. (Puradisastra, 1983: 6).
                                                                                      
“Bukan omong kosong atau bohong, jika dibandingkan dengan Chairil Anwar, Sayudi ternyata lebih unggul. Sebab, Chairil mewakili mestizoisme: setelah meninggalkan warisan Melayu dan Minangkabau ia tak memiliki apa-apa lagi. Berbeda dengan Sayudi: baginya tradisi Sunda belum berkurang, masih berupa kekayaan jiwa yang teguh membumi, tidak tergoyahkan oleh bujuk rayu orang lain. Oleh karena itu, puisi-puisi Sayudi merupakan satu pembaruan (reshaping) dari peninggalan leluhur. Ini sangat penting, sebab kebudayaan dilihat dari sudut pandang kerohanian merupakan proses yang bersinambung tidak terputus.”

Menurut Ajip Rosidi (1986) dalam sajak “Lalaki di Tegal Pati”, Sayudi mampu menghidupkan kembali jiwa Sunda yang tidak takut mati, tidak pernah sayang kepada nyawa dalam membela kebenaran dan martabat manusia. Sajak-sajak Sayudi,  menurut Ajip Rosidi, memperlihatkan keberanian, tetapi sadar diri, mencintai berlangsungnya hidup manusia yang penuh kemanusiaan.
Wing Karjo (1983: 6), salah seorang penyair terkemuka dalam sastra Indonesia, mengatakan bahwa Sayudi adalah penyair yang berpegang teguh kepada tradisi (Sunda). Sebagai penyair yang matang, menurut Wing, teknik persajakan Sayudi sudah tidak merupakan masalah baginya. Oleh karena itu, dapat dikatakan Sayudi seorang penyair klasik.
Dalam kaitannya dengan Madraji Rukasah S.W. mengatakan bahwa puisi panjang seperti itu merupakan hal yang baru (1983: 5). Menurut Rukasah, walaupun Madraji bersandar pada sastra lisan pantun, tetapi berbeda dengan pantun. Dan, meskipun ditulis dalam bentuk puisi yang umumnya delapan suku kata, Madraji berbeda dengan wawacan. Perbedaan yang paling menonjol, menurut Rukasah, terletak pada pilihan kata. Dalam Madraji tidak ditemukan kata-kata yang tidak perlu seperti dalam wawacan, karena adanya aturan guru lagu (bunyi vokal akhir) dan guru wilangan (jumlah suku kata dalam satu larik). Adapun perbedaan Madraji dengan pantun tampak dalam watak pelakunya yang tidak bersifat karikatural. Dengan begitu nampak sekali bahwa Madraji merupakan revolusi dalam karya sastra Sunda, yang embrionya sudak terlihat dalam Lalaki di Tegal Pati.
Selain itu, Rukasah (1983:5) juga mengatakan bahwa Madraji merupakan khas puisi Sunda seperti yang sering ditemukan dalam cerita pantun. Menurut Rukasah, cerita tersebut sangat kaya dengan asonansi, homoioteleuton, dan aliterasi. Dan, mengenai bahasa yang digunakannya, Rukasah mengatakan, tidak ada bandingannya. Selain kata-kata yang sesuai, Sayudi dapat membangun kombinasi-kombinasi kata yang plastis dan puitis humoristis. Pengetahuan Sayudi mengenai ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemasyarakatan tampak dalam membangun watak-watak pelakunya. Oleh karena itu, Rukasah tidak ragu menganggap Madraji sebagai salah satu hasil karya sastra utama, master piece, dalam sastra Sunda.
Baik Buyung Saleh, Ajip Rosidi, Wing Karjo, maupun Rukasah SW sepakat bahwa sajak-sajak yang ditulis Sayudi merupakan tonggak puisi baru yang merupakan kelanjutan dari tradisi puisi sebelumnya. Hal ini berbeda dengan sajak-sajak Indonesia seperti tampak dalam karya Chairil Anwar. Sebenarnya, perbedaan antara sajak Sunda dengan sajak Indonesia ini merupakan salah satu perwujudan dari konsep tentang Sunda dan Indonesia itu sendiri. Bagaimanapun, Sunda kini adalah kelanjutan dari Sunda masa lalu, namun tidak demikian dengan Indonesia. Dalam salah satu tulisannya dalam rubrik Catatan Pinggir Goenawan menulis:
“Tapi Indonesia sejak awal abad ke-20 adalah Indonesia yang dibentuk oleh pembicaraan tentang sejarah sebagai rupture, “patahan”, bukan kesinambungan. Sejak awal abad ke-20, ada kecenderungan menampilkan “baru” – yang patah arang dengan yang “lama” – seakan-akan sebuah bagian dari drama perbenturan.” (Mohamad, 2011: 146).

Bentuk delapan suku kata dalam larik-larik sajak Sayudi memang berakar kuat dalam tradisi Sunda. Bukan hanya pada puisi tradisional Sunda seperti sisindiran, jangjawokan,  atau pantun; bentuk delapan suku kata pun dapat dilihat pertaliannya dengan tiga puisi Sunda kuna, yaitu “Para Putera Rama jeung Rawana”, “Sri Ajnyana”, dan “Bujangga Manik” yang ditulis pada abad ke-16 (Noorduyn-Teeuw, 2009).

Menyiasati Medan Pertarungan
Seperti sudah disampaikan pada awal tulisan, sajak-sajak Sayudi muncul ketika terjadi polemik sajak Sunda. Polemik sajak tersebut akan dapat dibaca secara lebih baik jika ditempatkan dalam konteks sosial politik yang terjadi pada tahun 1950-an.
Pada tahun 1950-an tanah Sunda menjadi medan pertarungan ideologi, politik, dan kekuasaan (Muhtadin 2007: 97-98). Contoh yang signifikan adalah konflik yang berkepanjangan antara pemerintah Republik Indonesia dengan DI/TII dan perubahan politik dari negara RIS menjadi negara kesatuan RI. Kedua konflik ini berdampak besar pada kehidupan masyarakat Sunda. Konflik antara pemerintah RI dan DI/TII berakibat buruk pada kehidupan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di pedesaan. Perubahan politik dari RIS menjadi negara kesatuan mengakibatkan tersingkirnya sebagian besar elit Sunda yang duduk sebagai pejabat negara.
Berkaitan dengan hal ini, Ajip Rosidi menulis:
“Mémang kungsi aya mangsana urang Sunda ngarasa henteu sugema ku ayana kawijakan “ko” jeung “non” pamaréntah anu nyababkeun réa urang Sunda anu kapabel nyekel kalungguhan di Pamaréntahan Jawa Barat digésér ku sabab dianggap “ko”, diganti ku nu henteu kapabel tapi anyar datang ti Yogya nu dianggap “non” – anu réréana urang Jawa. Kana ayana kawijakan pamaréntah anu maliding sanak, timbul gerakan kasundaan dina taun 1950-an nu puncakna ngayakeun Kongrés Pamuda Sunda.” (Rosidi, 2010: 28-29).

“Memang pernah ada masanya orang Sunda merasa tidak sugema dengan adanya kebijakan “ko” dan “non” dari pemerintah yang menyebabkan banyak orang Sunda yang kapabel memegang jabatan di Pemerintahan Jawa Barat digeser karena dianggap “ko”, diganti oleh orang yang tidak kapabel tetapi baru datang dari Yogya yang dianggap “non” – yang kebanyakan orang Jawa. Terhadap adanya kebijakan pemerintah yang maliding sanak, timbul gerakan kesundaan pada taun 1950-an yang puncaknya mengadakan Kongres Pemuda Sunda.”

Dalam bidang sosial politik muncul Gerpis (Gerakan Pilihan Sunda), Daya Sunda, FPS (Front Pamuda Sunda), dan BMS (Badan Musyawarah Sunda). Dalam bidang kebudayaan timbul kegiatan-kegiatan kebudayaan, di antaranya, Simposium Bahasa Sunda (1954), Kongres Bahasa Sunda (1956), Simposium Sastra Sunda (1955) dan Kongres Pemuda Sunda (1956). Dalam bidang pendidikan lahir Universitas Padjadjaran Bandung (1959) yang diharapkan mampu mendidik orang Sunda.
Selain itu, pada tahun 1950-an kita menyaksikan pula terbitnya majalah dan surat kabar, di antaranya: Lingga (1950), Warga (Bogor, 1951), Sunda (Bandung, 1952), Budaja (Bandung,1952), Candra (Bogor, 1954), Panghegar (Bandung, 1955), Kudjang (Bandung, 1956), Manglé (Bogor, 1957), Kiwari (Jakarta, 1957), Simpaj (Jakarta, 1957), dan Kalawarta Lembaga Basa djeung Sastra Sunda (Bandung, 1957).
Masalah yang timbul pada tahun 1950-an dan berhasil memikat perhatian banyak penulis adalah perdebatan atau polemik mengenai sajak Sunda. Polemik yang pertama, menurut perkiraan Ajip Rosidi (2007: 7), terjadi sekitar tahun 1950 dalam surat kabar Sipatahoenan. Polemik ini terjadi karena seorang pengarang yang berada di balik nama Ki Sunda menganggap bahwa puisi Sunda yang harus dipelihara sebagai warisan leluhur adalah dangding, bukan sajak. Tulisan ini mendapatkan reaksi baik dari para penulis yang setuju maupun yang tidak setuju.
Polemik yang kedua terjadi pada tahun 1955 dalam majalah Warga. Polemik ini dimulai oleh tulisan Wahyu Wibisana yang berjudul “Sadjak Sunda”. Tulisan ini muncul dalam rubrik Arena Pena majalah Warga tahun 1955. Dalam tulisan tersebut Wahyu Wibisana (1955: 17-19) mengemukakan arti penting sajak bagi perkembangan sastra Sunda. Meskipun sajak memiliki ukuran yang pendek dan mengandung teka-teki seperti sisindiran ‘pantun’ atau wawangsalan, tetapi memiliki arti atau makna yang lebih luas. Wahyu memberi contoh sajak tentang Byron. Ia bukan orang Sunda, tetapi sifat-sifat yang digambarkan dalam sajak tersebut dapat menimpa manusia Sunda.
Bagi Wahyu, sajak adalah tantangan sekaligus merupakan jalan menuju sastra dunia. Menurutnya, para pengarang Sunda tidak usah merasa puas dengan karya-karya yang sudah ada. Para pengarang Sunda harus bersaing dengan para pengarang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat ekspresinya. Di akhir tulisannya Wahyu Wibisana mengajak para pengarang Sunda untuk memulai langkah tersebut.
... nu nulis tjumeluk ka para kanca, haju urang neangan hasil sastra nu gede pangadjina dina wangunan sadjak.
Dunja teu heureut djeung teu ngariut, ulah ngagugulung nu geus aja bae, tapi kudu mencar-motekar dina harti nu leuwih lega.
Kasusastran Sunda ulah eleh ku kasusastran Indonesia, sing eling jen kabudajaan Sunda baheula saluhureun kabudajaan urang Malaju. Geura hudang, geura hudang, tuh geus beurang!
Haju urang naratas djalan nudju kana kasusastran dunja...! (Wibisana, 1955: 19).

... penulis mengajak kepada kawan-kawan, mari kita mencari hasil sastra yang besar nilainya dalam bentuk sajak.
Dunia tidak sempit dan tidak mengecil, jangan terpaku pada hasil yang sudah ada, tetapi harus aktif-kreatif dalam arti yang lebih luas.
Kesusastran Sunda jangan kalah oleh kesusastran Indonesia, sadarlah bahwa kebudayaan Sunda dahulu lebih tinggi daripada kebudayaan orang Melayu. Bangunlah, bangunlah, hari sudah siang!
Mari kita membuka jalan menuju ke kesusastran dunia...!

Tulisan Wahyu Wibisana di atas segera disambut oleh tulisan R. Juju Yuliaty dalam Warga no.134, 20 Mei 1955. Dalam tulisan berjudul “Panjandra Sadjak Sdr. Wahyu Wibisana” (Kritik Sajak Sdr. Wahyu Wibisana), Yuliaty melontarkan kritik kepada Wahyu Wibisana. Bagi Yuliaty sajak adalah suatu yang sulit dimengerti dan hanya diperhatikan oleh segelintir orang saja. Daripada memperhatikan keberadaan sajak yang seperti itu lebih baik kembali kepada khazanah kekayaan sastra Sunda yang asli. Jika Wahyu mengajak para sastrawan pergi keluar, Juju Yuliaty justru mengajaknya kembali pulang.

... kuring ngadjak ka Saderek, haju urang balik deui ka ka-Sundaan! Pasundan masih nganti putrana nu katalimbeng neangan pangbalikan.
Ku saha deui kasenian Sunda asli teh dimumulena, iwal ti ku urang Sunda mah?
Sunda djaja! Sunda djaja! Masing tanpa sadjak oge, tinangtu bakal nandjung!

... aku mengajak Saudara, mari kita kembali lagi kepada ke-Sundaan! Pasundan masih menanti putranya yang bingung mencari tempat kembali.
Siapa lagi yang akan memelihara kesenian Sunda asli ini, jika bukan orang Sunda?
Sunda jaya! Sunda jaya! Tanpa sajak pun, pasti beruntung!

 Setelah kedua tulisan Wahyu Wibisana dan Juju Yuliaty di atas, tulisan mereka hadir silih berganti pada majalah Warga. Baik Wahyu maupun Juju memegang teguh argumentasinya masing-masing. Wahyu mempertahankan eksistensi sajak, sedangkan Juju mempertahankan dangding. Polemik kedua pengarang ini menyebabkan para penulis lain ikut turut campur. Dan, polemik ini bukan hanya terjadi pada majalah Warga, tetapi berlangsung di media berbahasa Sunda lainnya, seperti Sipatahoenan. Sebagian membela Wahyu, sebagian lainnya membela Juju, tetapi ada pula yang berada di garis tengah.
Ada banyak nama yang terlibat dalam perbincangan sajak Sunda, baik yang secara langsung berkaitan dengan polemik maupun yang tidak, di antaranya adalah B.A.S, Djunaedi A., E. Permana, E. Tarmidi, K.T.S., Ki Sunda, Kusnadi Ps., Werdaja, Mh. Enoch, Much. Hamid, Pa Etjep, R. Atmamihardja, R. Juju Yuliaty, R.A. Affandi, R.E. Soelaeman, Rukasah S.W., Surachman Radea M., Sut Tisna, Suwondo, Wahyu Wibisana, dan Z. Abudin Alamsjah.
Menanggapi hal tersebut Ajip Rosidi (1966: 58) menyatakan bahwa dalam polemik-polemik seperti itu yang terjadi adalah bentrokan antara chauvinisme sempit berupa pemujaan terhadap peninggalan leluhur sendiri secara berlebih-lebihan dan tanpa pengertian, dengan semangat muda yang berkobar-kobar dan kepercayaan terhadap kemampuan diri-sendiri yang amat besar.
Seperti sudah disampaikan sebelumnya, Sayudi tidak melibatkan diri dalam polemik sajak Sunda, namun secara serius menulis sajak, yang akhirnya berhasil menjawab polemik dengan karya-karyanya.
Dengan sajak-sajaknya yang terkumpul dalam buku Lalaki di Tegal Pati, terutama dengan sajaknya yang berjudul “Lalaki di Tegal Pati” Sayudi sekaligus mampu menjawab dua persoalan yang hidup pada saat itu, yaitu persoalan politik dan persoalan sastra, khususnya berkaitan dengan eksistensi sajak dalam ranah sastra Sunda.
Persoalan ketersingkiran para pemimpin Sunda setelah adanya kebijakan “non” dan “ko”, yaitu nonkoperatif dan koperatif dengan pihak Belanda, dianalogikan Sayudi dengan cerita lama yang sangat sensitif tentang raja Sunda yang dikhianati Gajah Mada dalam Perang Bubat sebagai lalaki di tegal pati (lelaki di medan tempur). Persoalan asli/tidak asli puisi Sunda dijawab Sayudi dengan mendayagunakan puisi-puisi delapan suku kata dan metafor-metafor yang orisial.
Keberhasilan ini diapresiasi Ajip Rosidi dengan menempatkan Sayudi dalam kolom pengarang Zaman Kiwari yang mampu mambangunkan kembali jiwa besar Sunda. Sejak itu, posisi Sayudi terpasak dalam khazanah sastra Sunda. Oleh kritikus Ajip Rosidi pula, Sayudi disejajarkan dengan pengarang Surachman R.M., Rusman Sutiasumarga, Ki Umbara, Yus Rusamsi, Wahyu Wibisana, Yus Rusyana, Rachmat M Sas Karana, dan Ayatrohaedi.

Simpulan
Dari uraian di atas dapat dicatat dua hal. Pertama, dengan sajak-sajaknya Sayudi adalah pembaru puisi Sunda. Sajak Sunda modern yang ditulis Sayudi merupakan kelanjutan dari tradisi puisi sebelumnya. Hal ini berbeda dengan Chairil Anwar yang menulis sajak Indonesia dengan cara memutuskannya dari tradisi puisi yang ada sebelumnya. Kedua, mampu mengangkat persoalan politik tahun 1950-an dengan mengangkat cerita tentang Perang Bubat dengan penafsiran yang kreatif dan produktif. Dengan kedua upaya ini Sayudi dianggap mampu membangunkan kembali jiwa besar Sunda atau renaisans kepribadian Sunda.
Pengaruh Sayudi dalam persajakan Sunda cukup mendalam. Dalam karya-karya Godi Suwarna, yang merupakan tonggak lainnya dalam sajak Sunda, upaya yang dilakukan Sayudi ini masih cukup kentara. Pola oktasilabi dan problemtika sosial politik sosial masyarakat Sunda masih mengental dalam sajak-sajak Godi Suwarna.


Daftar Pustaka

Karjo, Wing. 1983. “Panganteur” dalam Madraji: Carita Pantun Modern. Bandung: Medal Agung. Hlm. 6.
Mohamad, Goenawan. “Perindu” dalam Tempo 19 Juni 2011. Hlm. 146.
Muhtadin, Teddi, ed. 2000. “Sayudi: Unik, Kumplit jeung Teu Jejerih”. Inskripsi talk show “Mendak Sayudi: Naon nu Kapendak”. Fakultas Sastra Unpad. Jatinangor. 10 Mei 2000.
Muhtadin, Teddi. 2007. “Fungsi Kritik Sastra Ajip Rosidi”. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Noorduyn, J. dan A. Teeuw 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Diterjemahkan oleh Hawe Setiawan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Puradisastra, Buyung Saleh. 1983. “Panganteur” dalam Madraji: Carita Pantun Modern. Bandung: Medal Agung. Hlm. 5-6.
Rosidi, Ajip. (ed). 2000. Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rosidi, Ajip. 1966. Kesusastran Sunda Déwasa Ini. Pasuketan, Djatiwangi, Tjirebon: Tjupumanik.
Rosidi, Ajip. 1986. Ngalanglang Kasuastran Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rosidi, Ajip. 2007. Sajak Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Rosidi, Ajip. 2010. Gerakan Kasundaan. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Rukasah. 1983. “Panganteur” dalam Madraji: Carita Pantun Modern. Bandung: Medal Agung. Hlm. 5.
Sajudi. 1963. Lalaki di Tegal Pati. Bandung: Kiwari.
Sayudi. 1983. Madraji: Carita Pantun Modern. Bandung: Medal Agung.
van Bemmelen, Sita dan Remco Raben. 2011. Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia dan KITLP-Jakarta.
Wibisana, Wahyu, 1955. “Sadjak Sunda” dalam Warga. No.133, 10 Méi. Hlm 17-19.
Yuliaty, Juju. 1955. “Panjandra Sadjak Sdr. Wahyu Wibisana” No. 134, 20 Méi 1955. Hlm. 25-26.

Nonverbal - Tentang Api