Langsung ke konten utama

Narasi Seni Ganjar Kurnia

31 Maret 2015

Karya Seni Ganjar Kurnia, Menengok ke Belakang, Ada di Kekinian, dan Memandang ke Depan

[Unpad.ac.id, 31/03/2015] Selain menjabat sebagai Rektor Universitas Padjadjaran , Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA juga aktif melahirkan berbagai karya sastra dan seni. Di tangannya, lahir berbagai karya mulai dari seni dan sastra Sunda hingga karya kontemporer. Karya tersebut lahir semasa masih kuliah hingga duduk menjadi Rektor Unpad periode sejak 2007.
Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA saat Pidangan Rumawat Padjadjaran "Narasi Seni Ganjar Kurnia" di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Senin (30/03). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA saat Pidangan Rumawat Padjadjaran “Narasi Seni Ganjar Kurnia” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Senin (30/03). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
“Karya Pak Rektor itu punya kekuatan. Ada misi yang jelas sebagai orang Sunda, orang Islam, dan sebagai orang pendidik,” ujar dosen Sastra Sunda FIB Unpad, Drs. Teddi Muhtadin, M.Hum., usai menyaksikan Pidangan Seni Rumawat Padjadjaran ke-77 bertajuk “Narasi Seni Ganjar Kurnia” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri Bandung, Senin (30/3).
Selain mempunyai misi yang jelas, karya yang diciptakan Prof. Ganjar selalu memandang Kesundaan secara optimis. Seni Sunda tidak melulu mengikuti pakem yang sudah ada. Dalam hal ini, karya yang diciptakannya sangat terbuka terhadap perkembangan dan fenomena sosial saat ini.
Hal ini tampak pada beberapa karya yang dipentaskan dalam pidangan kali ini. Karya dari beberapa genre, seperti sajak, lagu, opera Sunda, gending karesmen, oratorium, syair keur syiar, fiksi mini, hingga adaptasi haiku (puisi pendek Jepang) dipentaskan dengan apik oleh tim Unit Kesenian Unpad dan UKM PSM Unpad.
Salah satu yang mendapat sentuhan kontemporer dari tangannya ialah gending karesmen. Dalam uraian Prof. Ganjar, gending karesmen yang diciptakannya tidak terikat pada pakem yang selama ini melekat, yakni harus mementaskan cerita Sunda zaman dahulu. Padahal, tema kontemporer juga bisa dipentaskan.
Sehingga, lanjut Teddi, semangat keterbukaan inilah yang melahirkan berbagai karya, khususnya Sunda, yang baru. “Kebelakangnya dia menengok, kekiniannya juga kuat di data-datanya, ke depannya juga beliau pikirkan,” imbuh Teddi.
Yesmil Anwar, S.H., M.H, seniman yang juga dosen FH Unpad juga punya pandangan. Menurutnya, Prof.Ganjar memiliki banyak media ekspresi. Karya-karyanya pun sarat dengan nilai pendidikan dan religius.
“Diharapkan, ke depan ia mampu membuat karya dengan waktu yang cukup sehingga terjadi pengendapan, ada kontemplasi, dan kreativitasnya bisa utuh,” ujar Yesmil yang juga seorang penyair.
Apresiasi terhadap karya Prof. Ganjar juga diungkapkan oleh Prof. Dr.med. Tri Hanggono Achmad, dr., Dekan FK Unpad yang juga sebagai Rektor Terpilih Unpad 2015-2019.
“Isinya sarat dengan value yang luar biasa. Dan menyampaikan value tersebut memang memerlukan metode yang tidak konservatif,” paparnya.*
Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sunda

Téddi Muhtadin
Sapanjang néangan kidul, kalér deui kalér deui, sapanjang néangan wétan, kulon deui kulon deui, sapanjang néangan aya, euweuh deui euweuh deui.
Sepanjang mencari selatan, hanya utara yang kujumpa, sepanjang mencari timur, hanya barat yang kujumpa, sepanjang mencari ada, hanya tiada yang kujumpa.
(Haji Hasan Mustapa)
Puisi adalah istilah baru yang digunakan untuk menandai bentuk-bentuk sastra yang sudah terlebih dahulu ada. Istilah puisi baru dikenal dalam khasanah kesusastraan Sunda sekitar awal abad ke-20, yakni saat sarjana-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra berdasarkan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi pada hakikatnya adalah monolog, drama adalah dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya.  Penjelasan lain yang lebih khusus, dalam Kamus Istilah Sastra (1992)…