Kamis, 11 Agustus 2011

Novel Sejarah Demung Janggala Karya Tatang Sumarsono: Masa Lalu sebagai Refleksi

Teddi Muhtadin

Demung Janggala yang mendapat Hadiah Sastra Sunda “Rancagé” tahun 1994, saya anggap sebagai novel sejarah, meskipun pengarangnya sendiri menolak istilah itu. Ia menganggap novelnya hanya meminjam latar sejarah. Padahal, jika kita cermati, penggunaan latar sejarah berarti penggunaan peristiwa sejarah yang dalam Ilmu Sejarah disebut fakta sejarah. Jika realitas sejarah dijadikan objek penulisan novel maka hasilnya adalah sebuah novel sejarah. Adapun yang dimaksud dengan fakta sejarah di sini -seperti dikutip oleh Kuntowijoyo (1987: 129) dari Sosial Research Council- memiliki dua arti, yaitu (1) “a thing done, an action, deed, event”, yang mencakup perbuatan-perbuatan tunggal atau nama umum bagi peristiwa sejarah itu dan (2) “a particular truth”, yaitu generalisasi dari sejumlah fakta khusus yang menunjukkan gejala umum.

Lalu, sejauh mana hubungan antara aktualitas atau faktisitas sejarah dengan imajinasi pengarang dalam novel Demung Janggala? Hal ini perlu dikembalikan kepada peranan karya sastra sebagal simbol verbal, yang menurut Kuntowijoyo (1987: 127), terdiri atas tiga cara, yaitu cara pemahaman, cara perhubungan, dan cara penciptaan. Sebagai cara pemahaman, kadar peristiwa sejarah akan lebih tinggi dibandingkan dengan imajinasi pengarang. Dalam karya sastra berupa cara perhubungan, kedua unsur itu sama kadarnya. Dalam karya sastra sebagai cara penciptaan, kadar aktualitas dan faktisitas sejarah lebih rendah dari imajinasi pengarang. Dan, novel Demung Janggala lebih tepat jika dimasukkan sebagai cara yang ketiga, karena kadar imajinasi pengarang lebih tinggi dibandingkan dengan aktualitas atau faktisitas sejarahnya.

***

Novel Demung Janggala menggunakan latar pada kurun waktu pascapenumpasan pemberontakan Dipati Ukur oleh bala tentara Mataram pada abad ke-17. Tokoh-tokoh utamanya bukan tokoh sejarah, tetapi tokoh imajinatif yang dilukiskan sebagai anak-anak Senapati Suranangga, yaitu seorang senapati yang menjadi tangan kanan Dipati Ukur. Peristiwa pemberontakan Dipati Ukur sendiri dalam novel itu hanya dijadikan sebagai masa lalu saja.

Cerita dimulai ketika tokoh utama Demung Janggala kecil dan kakak perempuannya, Listayuwangi, dibawa melarikan diri oleh kedua pengasuhnya untuk menghindari pertumpahan darah yang terjadi di pusat kota Ukur. (Nasib orang tuanya tidak diketahui). Akan tetapi, perjalanan mereka terhambat oleh aliran sungai Citarum yang sedang meluap. Karena itu, dengan mudah mereka tertangkap oleh para pengejarnya. Perpisahan pun terjadi. Demung Janggala jatuh ke sungai Citarum setelah membunuh salah seorang tentara, Listayuwangi dan pengasuh perempuannya diboyong sebagai tahanan, sedangkan pengasuh laki-lakinya tewas di ujung tombak karena berusaha melawan.

Alur cerita terus maju. Demung Janggala dan kakaknya mengalami perkembangan yang berbeda. Demung Janggala, setelah ditemukan oleh kepala rampok dan dijadikan anak angkatnya, tumbuh menjadi pemuda pemberani yang penuh dengan kebencian terhadap penguasa. Ia berkali-kali melakukan perampokan dan makar.

Adapun Listayuwangi setelah diboyong oleh bala tentara Mataram dan mengalami pemerkosaan yang sangat mengenaskan, kemudian diangkat menjadi perempuan terhormat oleh seorang demang yang masih memiliki kecintaan kepada ayah Listayuwangi. Dan, akhirnya dengan terpaksa Listayuwangi bersedia dijadikan selir penguasa baru wilayah Ukur.

Cerita diakhiri dengan bertemunya kedua kakak beradik itu. Pada saat itu Listayuwangi sudah beranak tiga dan telah menjadi istri padmi[1], karena istri padmi terdahulu meninggal dunia. Adapun Demung Janggala justru berada dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Di samping sudah kehilangan kedua orang tua angkat yang sangat dicintainya dan tubuhnya penuh luka karena dikeroyok gulang-gulang, Demung Janggala pun masih dihadapkan pada kekuasaan hukum, karena keberadaan dirinya segera diketahui oleh para penguasa. Dan, hukuman yang akan diterimanya adalah hukuman mati.

***

Ada dua hal penting, paling tidak, yang mesti diperhatikan dan novel Demung Janggala. Pertama, tentang penindasan. Kedua, sikap politis masyarakat tertindas terhadap penindas yang menjadi penguasa.

Seperti telah menjadi keharusan sejarah, penindasan atau kekerasan selalu melahirkan hal yang sama, yaitu penindasan atau kekerasan baru.

Kebencian, kekerasan, dan tindakan makar yang dilakukan Demung Janggala tidak ahistoris. Ia seolah-olah digerakkan oleh keharusan sejarah itu. Para penguasa Mataram beserta bala tentara yang memporakporandakan wilayah Ukur telah menyulut api dendam dan kebencian pada diri Demung Janggala. Kemudian, Demung Janggala tumbuh menjadi janggala ‘ujung tombak’ yang selalu mengacaukan bahkan kalau mungkin menghancurkan sang penguasa. Dalam hal ini terlihat bahwa penindasan dan kekerasan sama sekali bukan jalan keluar yang mampu menyelesaikan persoalan.

Bagi masyarakat sendiri, ketertindasan itu seringkali menyudutkan mereka pada dua pilihan yang tidak mungkin ditolaknya. Novel Demung Janggala pun menawarkan dua sikap politis masyarakat tertindas terhadap para penindasnya (penguasa), yaitu sikap kooperatif dan nonkooperatif. Kedua sikap ini memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing. Sikap nonkooperatif yang dilakukan Demung Janggala membuatnya bebas untuk mengekspresikan kebenciannya kepada penguasa. Ia memposisikan dirinya sebagai lawan penguasa. Untuk melakukan hal tersebut ia memiliki dasar pijakan yang kuat, seperti yang ia ucapkan kepada Listayuwangi: “Tong nyalahkeun teuing kaayaan.... Hirup urang jadi kieu teh can tangtu alatan takdir Pangeran, tapi ku sabab ayana panggawé nu lian. (hlm. 175). (Jangan terlalu menyalahkan keadaan.... Hidup kita jadi begini belum tentu karena takdir Tuhan, tetapi karena adanya perbuatan orang lain.)” Adapun resiko dari sikap seperti itu adalah sang tokoh harus kehilangan semua yang dicintainya dan ia sendiri menghadapi hukuman mati. Harapan dan rencananya seolah-olah putus hingga di situ. Tragis. Sungguh-sungguh tragis.

Sikap politis Demung Janggala berbeda dengan sikap politis kooperatif yang dilakukan Listayuwangi. Listayuwangi tidak mengekspresikan kebencian dan kekesalannya secara terbuka, malahan ia dapat bersanding di sisi sang penguasa baru, meskipun ia mesti bermuka dua atau menyembunyikan identitasnya (namanya diubah menjadi Lismaya). Ia terus hidup bahkan melahirkan keturunan. Kekesalan dan kekecewaannya berlanjut dengan harapan-harapan di masa yang akan datang. Pijakan hidupnya adalah: “Kaayaan nu ngalantarankeun urang papisah, terus manggihan lolongkrang séwang-séwangan, urang ngaliwat kana éta lolongkrang téh sabab kapaksa, da ngan éta-étana” (hlm. 175) (Keadaanlah yang menyebabkan kita berpisah, lalu menemukan jalan masing-masing... kita melewati jalan itu karena terpaksa, sebab hanya itu jalan yang ada.)” Jika diperhatikan lebih cermat, bersatunya Listayuwangi dengan penguasa baru wilayah Ukur dapat dikatakan sebagai sintesis.

***

Meskipun novel Demung Janggala melukiskan kehidupan orang-orang yang tertindas, tetapi novel itu juga menyiratkan dasar pijakan bagi masa depan. Masa depan yang baik, menurut Mudji Sutrisno (1993: 14-15), akan diraih oleh orang atau bangsa yang memiliki sikap historiografik atau kesadaran matang terhadap sejarah. Artinya, ia bersikap mau menerima dengan sadar masa lalunya betapapun pahit dan getirnya. Kemudian, semua itu dijadikannya sebagai pendidikan kearifan dalam melangkah maju. Dan, sikap seperti ini dikenal dengan istilah berdamai dengan sejarah (Sutrisno, 1993: 15). Inilah yang terrefleksi dan novel Demung Janggala.

***

Novel Demung Janggala yang ditulis oleh Tatang Sumarsono, seorang pengarang yang produktif dan pada tahun 1993 meraih Hadiah Sastra “Samsudi” ini, telah menambah deretan genre sastra sejarah dalam khasanah sastra Sunda bersama karya-karya R. Memed Sastrahadiprawira, Olla S. Sumarnaputra, dan Yoseph Iskandar. Meskipun secara keseluruhan novel ini dapat dikatakan baik, namun masih ada beberapa kelemahan, misalnya cara mengakhiri cerita yang tergesa-gesa, banyaknya faktor kebetulan, serta adanya kekurangtelitian dalam logika cerita. Tetapi, Tatang Sumarsono masih muda, dan kita berharap dari tangannya lahir karya-karya yang lebih baik dan lebih bernilai. Semoga.



[1] Perempuan yang dimadu oleh bupati atau raja pada zaman dahulu (Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, 2006


“Novel Demung Janggala Karya Tatang Sumarsono: Masa Lalu sebagai Refleksi” dimuat dalam Jurnal Sastra, tahun iv, no.1, 1996, hlm.10-13.

Nonverbal - Tentang Api