Langsung ke konten utama

Subjek yang Membelah, Subjek yang Labil dan Sastra Tipologis: Mencoba Memahami Kumpulan Cerpen Serat Sarwasarwa[1]

Teddi Muhtadin

Katénjo ku Resi Bisma pajuaran geuning bet kakeueum getih. Getih nyarakclakan tina lalangit. (...) Katénjo ku Resi Bisma manéhna keur adug lajer. Raga teu magrupa raga, ukur daging nu ditapuk mangpirang-pirang jampaning.

(Tampaklah oleh Resi Bisma ternyata kamarnya terendam darah. Darah menetes dari langit-langit. [...] Tampaklah oleh Resi Bisma dirinya sedang meregang nyawa. Tubuhnya tak lagi berbentuk tubuh, hanya daging yang diserbu beribu anak panah.)

Saya melihat, pada kutipan salah satu paragraf cerpen “Suluk Mahasukma” di atas, ada subjek[2] yang membelah dirinya menjadi subjek yang lain. Atau, ada subjek yang memandang dan ada objek yang dipandang. Akan tetapi, subjek dan objek tersebut adalah Resi Bisma sendiri. Dalam alur cerpen secara keseluruhan, Resi Bisma yang memandang itu adalah subjek yang mungkin, sedangkan Resi Bisma yang dipandang tidak lain adalah subjek dalam realitas yang kita kenal dalam konvensi cerita wayang.

Selanjutnya, subjek yang membelah ini membentuk dua alur kematian Resi Bisma yang berbeda. Yang pertama adalah alur kematian Resi Bisma yang baku, yang merupakan realitas konvensi cerita wayang; sedangkan yang kedua adalah alur kematian Resi Bisma dalam kemungkinan, yakni kematian dengan latar waktu, tempat, serta alasan yang jauh berbeda dari kematian yang pertama.

Dalam cerpen di atas, kematian tersebut kemudian menyebabkan Kurawa menjadi berang. Mereka menuduh Pandawalah yang membunuh Resi Bisma. Di pihak lain, kematian Gatotgaca sebelum Batarayuda telah menimbulkan kekacauan yang lain, apalagi setelah terbukti bahwa Kresna tak mampu menyembuhkan salah satu putra Pandawa tersebut dan lopian hanya menampakkan bayangan kabut. Dewa pun menjadi bingung, sebab ketika Kurawa dan Pandawa telah berhadap-hadapan untuk berperang dan Kresna -meskipun kasip- meminta hak Pandawa atas tanah Astina kepada Kurawa, tiba-tiba dengan santun Suyudana menyerahkannya dengan hati yang tulus ikhlas.

Bagi saya, paragraf yang terakhir ini pun merupakan sebuah dunia yang mungkin. Dunia yang merupakan belahan dari realitas yang kita kenal di dalam wayang. Dan hal ini secara langsung membentuk distansi yang menyediakan ruang kosong yang mendamba untuk dimaknai. Ini adalah satu hal yang mesti dicatat dalam memahami karya Godi Suwarna[3], khususnya cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku Serat Sarwasatwa (1995).

***

Cara yang paling sederhana untuk membelah sebuah subjek memang dengan meletakkannya di depan cermin. Dengan cermin yang berbeda-beda (datar, cekung, cembung, kusam, atau rusak), akan tampil bayangan yang bermacam-macam. Bayangan yang ditampilkan dalam cermin tidak hanya berupa bayangan yang jungkir balik[4], tapi bisa saja berupa bayangan yang tegak lurus, sama besar, diperbesar, diperkecil, rusak, atau hanya merupakan bayangan kabut (maya) seperti yang tampak pada lopian Kresna dalam cerpen “Suluk Mahasukma”.

Dalam cerpen “Tik-tek”, misalnya, subjek membelah melalui mimpi sehingga ketertekanan subjek sebagai manusia robot oleh majikannya terasa sangat mengerikan. Di dalam cerpen “Gusti!Gusti!” (Tuhan! Tuhan!) subjek membelah menjadi tiga. Subjek pertama yang sedang berproses kreatif, diletakkan pada medan pertentangan dua subjek yang merupakan bagian dari dirinya, yakni subjek yang berada di sebelah kiri yang mengibarkan bendera hitam dan cenderung menjerumuskan, serta subjek yang berada di sebelah kanan yang mengibarkan bendera putih dan selalu menyuarakan kebenaran serta membela Tuhan.

Kembali kepada amsal subjek di depan cermin. Ada beberapa cerpen Godi Suwarna dalam Serat Sarwasatwa yang hanya menampilkan bayangan pada cermin, tanpa menghadirkan subjek yang direfleksikannya. Meskipun begitu, pembaca maklum dan dapat menduga adanya subjek yang direfleksikan tersebut, sebab subjek itu sudah sangat populer dan sudah menjadi konvensi.

Contoh seperti itu dapat dilihat dalam cerpen “Serat Sarwasatwa”, “Serat Smaradahana”, dan “Serat Kala Mesat”. Ketiga cerpen tersebut menampakkan gambaran dunia mungkin Rahwana. Dalam cerpen pertama Rahwana menjadi tokoh yang mirip dengan Robin Hood, yakni tokoh jahat yang memiliki rasa kasih sayang kepada kaum miskin; dalam cerpen kedua Rahwana menjadi tokoh yang memperjuangkan kebenaran; dan dalam cerpen ketiga Rahwana tampak sebagai tokoh munafik, yang pura-pura baik padahal merupakan tokoh sejahat-jahatnya.

Saya menganggap bahwa tokoh Rahwana ini adalah penanda yang baik bagi cerpen-cerpen Godi Suwama yang memiliki banyak kemungkinan tentang subjek yang membelah. Bukankah Rahwana sendiri adalah Dasamuka yang memiliki sepuluh wajah?

Masih ada dua cerpen yang memiliki kesamaan dengan cerpen tentang Rahwana di atas (yaitu cerpen yang tidak menampilkan subjek yang direfleksikannya). Dua cerpen tersebut yaitu “Apanjang-apunjung” (Selamat Sejahtera) dan “Gur-ger” (Terbahak-bahak). Cerpen pertama menggambarkan Parikesit dan Dawala yang lelah dan putus asa karena selalu didaulat oleh rakyatnya untuk tetap duduk sebagai pemimpin; dan dalam cerpen yang kedua Kabayan tampak tertekan dan akhirnya bunuh diri karena ia selalu dijadikan objek penertawaan. Dalam kedua cerpen tersebut tampak adanya kebebasan individu yang direnggut oleh massa.

***

Selain dapat dilihat dari sudut pandang “pembelahan”, cerpen-cerpen Godi Suwarna pun dapat dilihat dari sudut pandang labilnya subjek terhadap konteks. Hal ini dapat dianalogikan dengan labilnya kata terhadap makna atau penanda terhadap petanda. Konsekuensi dari semua ini adalah mudahnya bagi Godi merenggut subjek dari satu konteks lalu meletakkannya pada konteks yang lain.

Sebagai contoh, Kabayan bisa hidup bersama-sama dengan Cepot atau Gareng, seperti dalam cerpen “Lung-leng” (Bingung). Rahwana bisa menjadi kekasih Sinta; Sang Maruti bisa menembus lorong waktu yang sangat berbeda; Beker bisa berdarah dan organ tubuh Pa Kodir, dalam cerpen “Tik-tek”, bisa hanya terdiri atas kabel dan baud seperti robot; atau wajah bulan bisa cepat berganti dari wajah Yamadipati ke Amba dan kembali ke Yamadipati.

Dengan tukar peran seperti itu, misalnya Rahwana dengan Sri Rama, tampaknya Godi Suwarna ingin mengedepankan pokok daripada tokoh. Artinya, kebenaran itu, apapun yang disebut kebenaran, tidak terikat kepada tokoh tertentu. Ia bisa merasuk pada tokoh mana saja, atau bisa lepas dari tokoh yang mana pun. Dengan demikian, hubungan pokok dengan tokoh itu tidaklah pakem, tetapi rentan perubahan.

***

Setelah subjek yang membelah dan subjek yang labil, saya melihat hal yang lain dalam cerpen-cerpen Godi Suwarna, yaitu adanya kedudukan subjek yang ditempati oleh tokoh-tokoh mitos seperti Rahwana, Sinta, Kabayan, dan Mundinglaya. Jelas, bahwa mereka bukan tokoh psikologis, tetapi tokoh tipologis.

Yang dimaksud dengan tokoh psikologis, seperti yang ditulis oleh Dr. Kuntowijoyo dalam bukunya Budaya dan Masyarakat (1987), adalah tokoh yang mengalami perkembangan logis kejiwaaan. Ia adalah tokoh yang bebas. Adapun, tokoh tipologis adalah tokoh yang dibangun atas dasar perkembangan kejadian menurut penuturannya. Ia tidak memiliki perwatakan yang bebas karena sudah ditertibkan[5].

Nah, cerpen-cerpen Godi Suwarna dalam Serat Sarwasatwa, tokoh-tokohnya tetap tipologis, meskipun mereka merupakan tokoh-tokoh yang mungkin. Selain itu, tokoh-tokoh dalam cerpen Godi Suwarna itu pun hitam-putih yang tunduk pada gagasan, bukan pada perkembangan psikologis tokoh itu sendiri. Misalnya, Rahwana dan Sri Rama dalam cerpen “Serat Smaradahana” sama tipologisnya dengan kedua tokoh tersebut dalam Ramayana.

Tokoh Kuwu Acah dalam cerpen “Karamat Kuwu Karamat” (Keramat Kepala Desa Keramat) yang digambarkan sebagai kepala desa yang diterima masyarakat walaupun tanpa kepala, jelas merupakan personifikasi gagasan. Begitu pula tokoh Markum pada cerpen “Karunya Nya” (Kasihan) yang digambarkan sebagai seorang “Pancasilais” yang dihukum oleh masyarakat, sama tipologisnya dengan tokoh Kuwu Acah.

Merujuk kepada Kuntowijoyo, masih dalam buku Budaya dan Masyarakat, sastra tipologis seperti ini lahir dari masyarakat yang juga sangat tipologis. Masyarakat seperti itu lebih memilih kolektivisme daripada personalisme. Masyarakat seperti itu cenderung hirarkis, dan seringkali apa yang dianggap pikiran kolektif sebenarnya adalah pikiran elit yang sudah dimanipulasi. Dengan mengutip Erich Fromm, Kuntowijoyo menyatakan bahwa masyarakat seperti itu memiliki etika otoritarian[6].

***

Pamungkas. Cerpen-cerpen Godi Suwarna adalah wacana tentang subjek yang membelah. Dalam keterbelahan memang teks menyediakan ruang bagi pembaca untuk memberikan atau merebut kelimpahan makna. Kecenderungan membelah ini tampak pula pada reduplikasi judul-judul yang digunakan, misalnya “Apanjang-apunjung”, “Gur-ger”, “Tik-tek”, dan “Gusti! Gusti!”. Secara semiotik judul-judul itu merupakan ikon.

Cerpen-cerpen Godi Suwarna juga dibangun dengan subjek yang labil terhadap konteks. Misalnya, subjek dilepaskan dari konteksnya, lalu ditaruh pada konteks yang lain. Dan dalam hal seperti ini, Godi tampaknya ingin merelatifkan hubungan kebenaran terhadap subjek.

Cerpen-cerpen Godi Suwarna adalah cerpen tipologis. Tokoh-tokohnya tidak mengalami perkembangan psikologis, melainkan lebih tampak sebagai personifikasi dari gagasan pengarang. Sastra tipologis seperti ini niscaya lahir dari masyarakat yang juga masih sangat tipologis.

Rawayan, l2 Juni l998



[1] Godi Suwarna, 1995, Serat Sarwasatwa, Bandung: Geger Sunten. Buku ini mendapatkan Hadiah Sastra Sunda “Rancage” tahun 1996.

[2] Yang dimaksud dengan subjek di sini adalah pelaku atau tokoh. Dalam tradisi filsafat subjek dikhususkan bagi Aku yang sedang berpikir dan yang menyadari dirinya sendiri sebagai sumber parasaan, bayangan dan pikiran. Lihat Dick Hartoko, 1986, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali.

[3] Godi Suwarna adalah penulis cerpen dan sajak yang paling menonjol dalam kehidupan sastra Sunda saat ini. Dua kali ia mendapat Hadiah Sastra Sunda “Rancage” yakni tahun 1993 untuk buku Kumpulan Sajak Blues Kere Lauk dan tahun 1996 untuk buku Kumpulan Carpon Serat Sarwasatwa. Selain itu, ia pun kerap mendapat penghargaan dan hadiah untuk karya-karyanya yang masih lepas (belum dibukukan), misalnya dari LBSS dan Paguyuban Pasundan. Lahir di Tasikmalaya tahun 1956. Kini ia bekerja di Pemda Ciamis.

[4] Lihat esai pengantar Agus R. Sardjono “Tradisi Jungkir-balik dina Carpon-carpon Godi Suwarna” dalam Serat Sarwasatwa.

[5] Kuntowojoyo, 1987, Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

[6] Ibid.


“Subjek yang Membelah, Subjek yang Labil, dan Sastra Tipologis: Mencoba Memahami Kumpulan Cerpen Serat Sarwasatwa” dimuat dalam Jurnal Sastra, tahun vi, no.2, 1998, hlm.32-36.

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sunda

Téddi Muhtadin
Sapanjang néangan kidul, kalér deui kalér deui, sapanjang néangan wétan, kulon deui kulon deui, sapanjang néangan aya, euweuh deui euweuh deui.
Sepanjang mencari selatan, hanya utara yang kujumpa, sepanjang mencari timur, hanya barat yang kujumpa, sepanjang mencari ada, hanya tiada yang kujumpa.
(Haji Hasan Mustapa)
Puisi adalah istilah baru yang digunakan untuk menandai bentuk-bentuk sastra yang sudah terlebih dahulu ada. Istilah puisi baru dikenal dalam khasanah kesusastraan Sunda sekitar awal abad ke-20, yakni saat sarjana-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra berdasarkan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi pada hakikatnya adalah monolog, drama adalah dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya.  Penjelasan lain yang lebih khusus, dalam Kamus Istilah Sastra (1992)…