Kamis, 04 Agustus 2011

Godi Suwarna: Tak Henti Mengolah Tradisi

Teddi Muhtadin

Asa capé hirup téh. Asa rék pondok.

Tapi lamun geus ngarang, boh carpon boh sajak,

... kakara kuring téh teu rungsing teuing.

(Godi Suwarna, sampul belakang Blués Kéré Lauk)

1. Purwacarita

Pertanyaan yang mengganggu saya ketika hendak menulis makalah ini adalah apakah makna Godi Suwarna bagi publik sastra non-Sunda atau bagi publik sastra Indonesia atau Nusantara? Sebelum pertanyaan itu terjawab, dalam jagat sastra Sunda sendiri, sosok Godi Suwarna sudah terlalu muskil untuk diabaikan. Ia telah meninggalkan jejak yang dalam dan tak mungkin terpupus dalam khazanah kesusastraan Sunda masa kini. Terutama dalam karya cerpen dan sajaknya Godi Suwarna telah menunjukkan upaya-upaya penting yang berbeda dengan pengarang-pengarang Sunda sebelumnya serta membuka jalan-jalan baru yang memungkinkan untuk bisa dilalui oleh para pengarang sesudahnya.

Dalam tulisan ini, yang dapat saya lakukan adalah memperkenalkan sosok pengarang Godi Suwarna, termasuk visi kepengarangannya serta estetika karya sastra yang dihasilkannya dalam bahasa Sunda. Oleh karena itu, sesuai dengan sifatnya yang berupa perkenalan, maka hal-hal kecil dan renik yang mungkin sangat berguna untuk publik sastra Sunda menjadi tidak relevan. Dengan demikian, saya hanya akan membatasi diri pada perkenalan mengenai sosok dan karya Godi Suwarna secara garis besarnya saja.

2. Batas yang Mencair

Ketika buku Murang-maring (marah-marah), kumpulan sembilan buah cerpen, diterbitkan tahun 1985 jagat cerpen Sunda modern masih dihuni oleh karya-karya yang konvensional (realis). Akan tetapi, dalam kumpulan buku tersebut Godi Suwarna sama sekali tak menunjukkan kecenderungan realis. Menurut Duduh Durahman (1985: 5) dalam karya-karya cerpennya Godi “... lain baé ngaburak-barik cahara jeung palanggeran nulis carita pondok, di sagigireun éta deuih logika boh jenggélangan sarta ucap réngkak tokoh-tokohna gé dirakrak sakarepna.” (... bukan saja menghancurkan kehormatan dan aturan menulis cerita pendek, namun baik logika maupun sosok serta ucapan dan tingkah laku para tokohnya dibongkar sekehendak hati).

Dalam cerpen pertama yang berjudul “Kalangkang Budah” (Bayangan Buih), misalnya, diceritakan Sangkuriang bertemu dengan Oidipus. Digambarkan bahwa kedua tokoh ini memiliki wajah yang mirip dan tentu saja keduanya sama-sama pernah menggegerkan tanah airnya masing-masing karena melanggar tabu: mencintai ibu kandung dan membunuh bapak. Bedanya, Oidipus sempat menikahi ibunya dan mempunyai keturunan sedangkan Sangkuriang tidak; Oidipus hidup dalam legenda Yunani sedangkan Sangkuriang kedua hidup dalam legenda Sunda. Dengan mempertemukan dua tokoh ini Godi ingin menyuguhkan sebuah dialog mengenai takdir dengan cara yang lain. Jika bagi Sangkuriang takdir itu memberatkan, bagi Oidipus takdir itu harus diterima dengan kebesaran hati. Jika Sangkuriang gelisah, Oidipus justru bersikap santai. Tak ada kesimpulan di akhir cerpen, yang ada hanya teks yang terbuka.

Cerpen ini merupakan “nada dasar” bagi cerpen-cerpen Godi yang ditulis selanjutnya seperti “Stop! Stop! Stop!”, “Gonjang-ganjing”, “Burak-barik”, “Aswatamakurda”, “Purwadaksi”, “Murang-maring”, “Panjang-punjung” dan “Gual-guil”, semuanya dalam kumpulan cerpen Murang-maring. Bahkan hal ini merupakan semangat penciptaan Godi Suwarna sendiri yang selalu gelisah: berada di antara kehendak untuk mencintai tetapi sekaligus berniat mengabaikan sumber-sumber penciptaan serta berdialog dengan sumber-sumber yang lain. Atau, semacam “rindu dendam” kepada tradisi leluhur dan keterpikatan kepada “kerling” tradisi lain. Dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku Serat Sarwasatwa (Serat Serbasatwa) yang terbit sepuluh taun kemudian, 1995, dan dalam dua buku kumpulan sajaknya yakni Blués Kéré Lauk (Blues Dengdeng Ikan, 1992) dan Sajak Dongéng Si Ujang, 1998) semangat seperti itu masih terasa kental.

Secara estetik cerpen-cerpen Godi Suwarna dapat diandaikan sebagai rumah yang dibangun bukan dari bahan-bahan yang baru, tetapi dari bahan-bahan yang berasal dari rumah(-rumah) yang dihancurkan. Di dalam cerpennya Godi seolah berusaha menceraikan sesuatu yang utuh dan menyatukan bagian-bagian yang berserakan; mencairkan yang beku dan menggumpalkan yang mencair. Perekatnya adalah ide, dan ide turun dari pengarang. Godi adalah sejenis pengarang yang punya kuasa. Seperti dalang! Oleh karenanya, tak ada karakter dalam cerpen-cerpennya dan tak ada otonomi bagi tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh cerpen karya Godi seperti wayang yang tunduk pada permainan dan kehendak dalang. Dalam sajak “Jagat Alit”, secara tepat, ia menegaskan: “Dongéng naon nu rék midang?: Dalang kawasa!” (Dongeng apa yang akan tampil?: Dalang berkuasa!).

Berbeda dengan cerpen-cerpennya yang langsung menggebrak jagat sastra Sunda, dalam sajak-sajaknya justru ia mulai dengan sajak liris romantis yang cenderung masuk sebagai sajak-sajak yang konvensional. Dua kumpulan sajaknya yang berjudul Jagat Alit (Jagat Kecil, 1979) dan Surat-surat Kaliwat (Surat-surat Terlewat,1983) menunjukkan kecenderungan ini. Dengan kedua kumpulan sajaknya ini sebenarnya Godi sudah diakui sebagai penyair Sunda yang memiliki kekuatan mengolah kata. Akan tetapi, dengan kemunculan sajak-sajaknya yang kemudian, seperti yang terkumpul dalam buku Blués Kéré Lauk malah menempatkan Godi Suwarna sebagai salah satu dari tiga pilar utama perpuisian modern Sunda setelah Sayudi dan Rachmat M. Sas Karana. Dalam keputusan hadiah sastra “Rancagé” tahun 1933 Ajip Rosidi (1998a: 51) menilai karya Godi ini sebagai ekspresi pribadi yang otentik.

Secara estetis Blues Kere Lauk dicirikan dengan penulisan sajak nirbait. Selain sajak-sajak yang liris romantis dengan tempo yang lambat dalam buku tersebut muncul pula sajak-sajak “wanda anyar” yang sesak dengan diksi seperti “laser”, “whisky”, “band”, “ganja”, “cocaine” dsb. serta petikan-petikan lagu seperti “Father, I want to kill you!” dari Jim Morrison, “Gotta leave you all behind to face the truth ...” dari Freddie Mercury atau “I can’t get no satisfaction” dari The Rolling Stones yang riuh dengan tempo yang cepat. Menurut Agus R. Sardjono (1995: 8) “... sajak-sajak Godi baréto diganti ku sajak-sajak nu teu maliré ugeran baku, nojosan jeung matak eungap bari rusuh karasana” (... sajak-sajak Godi yang dulu diganti dengan sajak-sajak yang tidak memperhatikan aturan baku, menusuk-nusuk, sesak dan tergesa.) Kekuatan tipografi sajak nirbait ini sangat terasa kekuatannya dalam sajak-sajak riuh yang menyiratkan citra kematian, seperti dalam sajak “Grand Prix” atau “Studio Armagedon”.

Di dalam sajak “Grand Prix” tergambar betapa hidup manusia bergerak cepat seperti laju mobil dalam sirkuit, saling menyalib saling mendahului untuk pada akhirnya sampai pada kematian yang tidak dapat ditolak. Jika pada sajak-sajak periode Jagat Alit dan Surat-surat Kaliwat kekuatannya berada pada kata atau larik, maka pada sajak seperti “Grand Prix” ini kekuatannya justru terletak pada keseluruhan sajak. Agus R. Sardjono menggambarkannya sebagai (1995: 8) “kata-kata yang disemprotkan”. Ada baiknya kita perhatikan sajak “Grand Prix” berikut ini:

GRAND PRIX

Nincak gas sataker kebek mobil sport ngagerung mangprung rék ngudag jorélat waktu da startna kapandeurian. Ah, tangtu kasusud tapakna, cék haté anjeun harita. Jalan lempeng, jalan nanjak, pungkal-péngkol kénca katuhueun jungkrang. Sakiceup demi sakiceup tihang bulan tihang taun diliwatan. Ti saban-saban simpangan mobil deungeun milu nyemprung di sirkuit pada-pada teu hayang kapandeurian. “I can’t get no satisfaction!” sora kasét gumuruh nyasaak langit, ngendag-ngendag dungus mangsa. Gumuruh manglaksa mobil haseup knalpot ngeput jagat.Anjeun kudu nabrak deungeun tinimbang ditabrak batur. Nu nyakakak, nu jumerit mecut niat hayang gancang nyiap waktu nu can témbong kelemengna: “Boa sapéngkolan deui!” omong anjeun sabot setir guwar-giwar: “Boa di itu péngkolan!” cék nu séjén bari hantem silih sénggol. Dina hiji mangsa: anjog anjeun jeung nu séjén méh bareng ka garis finish; persis di jero kuburan tuluy nampa piala tetengger batu!

Terus terang saja, agak sulit menerjemahkan sajak ini. Banyak nuansa makna yang hilang dalam penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Budaya Dangiang Godi menyatakan bahwa keberhasilan karyanya justru diukur ketika penerjemah kesulitan memindahkannya ke dalam bahasa lain. Terjemahan di bawah ini jelas tak memadai namun cukup memberi gambaran perihal maknanya.

GRAND PRIX

Menginjak gas sekuat tenaga mobil sport melesat menderu menyusul kilatan waktu karena strart-nya tertinggal jauh. Ah, tentu tercium jejaknya, kata hatimu saat itu. Jalan lurus, jalan menanjak, belok kiri belok kanan, jurang di kiri kanan. Kedip demi kedip tiang bulan tiang tahun dilewati. Di setiap persimpangan mobil-mobil turut serta, di sirkuit masing-masing tidak mau terlampaui. “I can’t get no satisfaction!” suara kaset berguruh menggasak langit, menggoyang-goyang rumpun waktu. Gemuruh selaksa mobil, asap knalpot menutup jagat. Kau mesti menabrak daripada ditabrak. Yang mengakak, yang menjerit mendera niat hendak cepat menyusul waktu yang belum nampak berkelebat: “Mungkin satu tikungan lagi!” kata yang lain sambil terus saling menyenggol. Di satu waktu: engkau dan yang lain tiba hampir bersamaan ke garis finish; persis di dalam kuburan untuk menerima piala, nisan batu!

Terhadap sajak-sajak seperti ini Ajip Rosidi (1998b: 10) mengatakan bahwa bagi Godi Suwarna dunia hanya satu dan sudah tidak mempunyai batas lagi, orang Sunda dan kebudayaannya tak lagi terpisahkan dari bagian dunia lainnya, dari kehidupan budaya lainnya. Inilah alasan Ajip Rosidi memilih buku Blués Kéré Lauk sebagai pemenang Hadiah Sastra Sunda Rancagé tahun 1993.

Jika karya-karya Godi saya bandingkan dengan karya-karya sastra Sunda lama, sebenarnya, kreativitas yang dicirikan dengan penjungkirbalikan cerita-cerita yang sudah ada sebelumnya bukanlah sesuatu yang asing. Lakon wayang purwa yang sangat digemari di Tatar Sunda sebagian merupakan hasil penjungkirbalikan dari sumbernya. Sebagai contoh, Pendeta Dorna yang sangat mulia dalam Mahabarata diubah menjadi resi yang tunadaksa: hidung bengkok, tangan kengkeng dan “tuna susila”: hatinya busuk karena selalu ingin menghasut. Dalam cerita wayang Resi Dorna menjadi bahan olok-olok dan digambarkan sangat karikatural. Drupadi yang poliandri dalam Mahabarata diubah menjadi permaisuri yang hanya bersuamikan Pandu Dewanata dalam cerita wayang. Contoh lainnya, dalam Babad Godog diceritakan adanya pertemuan antara Kean Santang –anak Prabu Siliwangi- dengan Bagenda Ali yang menjadi khalifah keempat di Tanah Mekah. Padahal jika dilihat secara historiografi masa hidup kedua tokoh ini dipisahkan waktu berabad-abad. Begitu pun dalam cerita pantun, antara tokoh historis dan tokoh fiktif sering kali bercampur hingga sulit memisahkannya. Baik di dalam cerita wayang, babad ataupun di dalam pantun cerita atau tokoh-tokoh cerita bersifat tipologis dan menjadi penyampai pesan kepada pendengar atau pembaca. Dalam wayang dan babad kreativitas seperti itu lebih kental dilatarbelakangi oleh aspek keislaman.

Dengan memahami hal ini, saya ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Godi Suwarna terutama dalam cerpen-cerpennya sejalan dengan semangat penciptaan lakon-lakon wayang, babad atau cerita pantun. Ia adalah sang dalang. Jika Godi kemudian dianggap keluar dari pakem atau aturan baku, sebenarnya hanyalah keluar dari konvensi sastra Sunda modern yang didominasi oleh konvensi realis dalam cerpen dan liris-romantis di dalam sajak. Dalam hal ini, Godi malah kembali kepada “bentuk-bentuk” sastra lama yang sangat fleksibel merespon dan terbuka terhadap hal-hal yang baru. Rumusan proses kreatif Godi yakni “menolak tradisi dan bertolak dari tradisi” bukan mencerminkan sikap yang ambivalen terhadap tradisi, tetapi justru merupakan pilihan tegas bahwa tradisi bagi Godi adalah paradigma penciptaan. Jika tradisi etnik ini dianggap lokal, maka yang lokal ini bagai “kelir tanpa batas” (meminjam judul buku Umar Kayam), yang mampu mencairkan batas-batas yang dibangunnya baik antara fiksi dan nonfiksi, tradisi dan modernitas, Sunda dan non-Sunda, asli dan pengaruh, dsb..

3. Godi dan Merpati yang “Digodi”

Agar dapat mamahami karyanya lebih jauh perlu pula di sini disinggung mengenai latar belakang kehidupan Godi Suwarna yang merupakan agen perubahan dalam jagat sastra Sunda. Godi Suwarna lahir di Tasikmalaya tahun 1956 dan dibesarkan di kampung Cirikip, desa Cinyasag, Ciamis. Dalam perjalanan hidupnya Godi menempuh kehidupan yang majemuk. Sejak kecil Godi sudah berkenalan dengan cerita-cerita pendek yang dimuat dalam majalah Manglé, melalui ibu dan ayahnya ia diperkenalkan sejak dini dengan tembang Cianjuran. Ia pun gemar menonton pertunjukan wayang golek dan sudah bermain drama dengan anak-anak sebaya di kampungnya ketika duduk di bangku sekolah dasar. Hal inilah yang menyebabkan penguasaan Godi terhadap tradisi sastra Sunda sangat memadai. Hawe Setiawan (2002: 20) malah menyebutnya sebagai “penyair Sunda terakhir” dalam arti bahwa, di antara para penyair Sunda yang datang kemudian, dialah yang masih memiliki perkakas kesundaan yang lengkap bukan hanya dalam hal penguasaan bahasa tetapi juga dalam hal nilai-nilai yang melekat padanya. Jika rima sajak-sajak Godi sangat musikal dengan irama yang terjaga ketat hal ini bisa dikembalikan kepada keakrabannya dengan tradisi tembang Cianjuran di lingkungan keluarganya. Jika ia begitu fasih mewayangkan tokoh legenda, dongeng, dan sebagainya hal tersebut disebabkan karena bahan-bahannya sudah ditampung dalam gudang ingatannya sejak usia yang sangat muda. Begitu pun kiprahnya dalam sandiwara baik sebagai pemain dan sutradara tidak bisa dilepaskan dari kegiatan di masa kecilnya.

Akan tetapi, ada satu sisi dari kehidupannya yang sering kali luput dari pengamatan, yakni perasaan terikat atau tertekan. Dalam satu wawancara dengan Dangiang Godi mengungkapkan bahwa hubungan dengan ayahnya di masa kecil tidaklah manis: “Dia sangat streng. Kalau orang lain sempat menikmati masa kanak-kanak yang manis, saya tidak. Bayangkan saja, ayah saya dulu menjadi kepala sekolah dan saya muridnya. Dan saya selalu menjadi sasaran bahwa beliau menegakkan disiplin”. Dalam konteks ini olok-olok kawan-kawannya yang menyebut dirinya “Japati digodi!” (merpati diikat bulu-bulu sayapnya supaya tidak bisa terbang) menjadi bermakna. Lalu, jika kemudian ia bergaul dengan kehidupan kota lengkap dengan citra modern dari Janis Joplin, The Rolling Stones dsb. hingga harus berpindah sekolah sebanyak empat kali, hal ini pun menjadi wajar. Dan, jika dalam buku kumpulan sajak Blués Kéré Lauk banyak ditemukan diksi yang mengacu kepada para penyanyi rock dan blues hal itu karena Godi pernah akrab dengan dunia seperti itu.

Dengan melihat fenomena semacam itu dapat dipahami bahwa dalam diri Godi Suwarna ditemukan titik ekstrim dari “keliaran” dan “ketertiban”, “pemberontakan” dan “kepatuhan”. Paradok seperti ini, memang, membuat hidupnya menjadi gelisah. Dan, kegelisahan itu hanya dapat ditentramkan dengan menulis atau bermain sandiwara. Pada sampul belakang buku Blués Kéré Lauk Godi menulis: “Asa capé hirup téh. Asa rék pondok. Tapi lamun geus ngarang, boh carpon boh sajak, atawa mun maén sandiwara, kakara kuring téh teu rungsing teuing,” (Lelah rasanya hidup ini. Terasa akan pendek. Tapi jika sudah mengarang, baik cerpen maupun sajak, atau jika bermain sandiwara, baru saya merasa tidak terlalu pusing.)

4. Pamungkas

Sebenarnya masih banyak sisi yang dapat diungkap dari sosok dan karya Godi Suwarna. Misalnya tentang responya terhadap Undak-usuk (tingkat tutur) Bahasa Sunda: di saat para ahli hampir kesulitan menghadapi problem ini dan Kongres Bahasa Sunda V tahun 1988 memutuskan untuk menyederhanakannya menjadi tiga tingkatan, yakni bahasa halus, sedang dan kasar; Godi malah mendayagunakan basa lemes budak (bahasa halus untuk anak-anak) sebagai bahasa ungkap sajak-sajaknya dalam Sajak Dongéng Si Ujang. Upaya ini belum dilakukan para penyair lain. Hal lain yang juga menarik dari kepengarangan Godi adalah kepercayaannya kepada bahasa Sunda sebagai media bagi karyanya. Ia pernah menulis cerpen untuk Kompas dan menulis naskah drama berbahasa Indonesia, namun merasa lebih pas menulis dalam bahasa Sunda. Bagi Godi menulis dalam bahasa ibu adalah sebuah pilihan. Selain itu, yang juga perlu dibahas dari Godi adalah perihal kritik sosial dalam karyanya serta perbandingannya dengan pengarang lain yang senafas yang menulis dalam bahasa Indonesia seperti Wisran Hadi, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, atau Danarto. Hal terakhir, dapat pula dibahas mengenai hubungan Godi dengan fenomena hadiah sastra Sunda, sebab ia dapat meraih hampir semua hadiah sastra yang disediakan oleh lembaga-lembaga yang ada di Jawa Barat, mulai dari hadiah sastra “Rancagé”, hadiah Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), hadiah D.K. Ardiwinata, maupun hadian Manglé. Cag!

(Tulisan Lawas)

Nonverbal - Tentang Api