Langsung ke konten utama

Endorsement untuk buku Kasundaan Rawayan Jati

Di antara satuan-satuan budaya Sunda yang terus berubah, ternyata ada sesuatu yang tinggal tetap. Membentang dari masa lalu ke masa depan, dan selalu inspiratif bagi masa kini. Itulah jembatan kesejatian yang oleh Pak R. H. Hidayat Suryalaga disebut sebagai Kasundaan Rawayan Jati.

Dengan Kasundaan Rawayan Jati ini ia mengajak kita menelusuri kembali sumber-sumber primordial kearifan budaya Sunda dan meretas jalan bagi aktualisasinya di arena kekinian. Untuk itu, ia harus tekun memaknai kembali pengetahuan yang tertulis dalam naskah-naskah Sunda kuno dan mencari bandingannya dalam agama, filsafat, historiografi, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Saya yakin buku ini lahir bukan sekedar didorong oleh wawasan yang luas, tetapi juga dilandasi oleh keberanian serta tekad yang kuat.

(Teddi Muhtadin, kritikus sastra Sunda, dosen Fakultas Sastra Unpad).

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sunda

Téddi Muhtadin
Sapanjang néangan kidul, kalér deui kalér deui, sapanjang néangan wétan, kulon deui kulon deui, sapanjang néangan aya, euweuh deui euweuh deui.
Sepanjang mencari selatan, hanya utara yang kujumpa, sepanjang mencari timur, hanya barat yang kujumpa, sepanjang mencari ada, hanya tiada yang kujumpa.
(Haji Hasan Mustapa)
Puisi adalah istilah baru yang digunakan untuk menandai bentuk-bentuk sastra yang sudah terlebih dahulu ada. Istilah puisi baru dikenal dalam khasanah kesusastraan Sunda sekitar awal abad ke-20, yakni saat sarjana-sarjana Belanda mulai meneliti kesusastraan Sunda. Dalam penelitian tersebut, tentu saja, mereka memahami sastra Sunda dengan terminologi sastra Barat. Terminologi sastra Barat itu, di antaranya, membedakan karya sastra berdasarkan puisi, drama dan cerita. Menurut Luxemburg (19), misalnya, puisi pada hakikatnya adalah monolog, drama adalah dialog, dan cerita adalah campuran di antara keduanya.  Penjelasan lain yang lebih khusus, dalam Kamus Istilah Sastra (1992)…