Kamis, 11 Agustus 2011

Mahasiswa di Antara Suara Nietzsche, Smith[1], dan Si Kabayan: Analisis Wacana Drama “Tukang Asahan” Karya Wahyu Wibisana

Teddi Muhtadin

Paling tidak, ada lima hal yang menarik dari teks drama “Tukang Asahan” (Penjual Batu Pengasah) karya Wahyu Wibisana. Pertama, teks menggunakan beberapa bentuk pementasan yakni longsér, sandiwara, gending karesmén, dan drama modern. Kedua, teks mempertemukan tokoh-tokoh dari “tradisi” yang berbeda: ada keluarga Raja, keluarga Sudagar (Saudagar), keluarga si Kabayan, Tukang Asahan dan Mahasiswa (khusus mengenai Mahasiswa merupakan tokoh baru dalam khazanah sastra drama Sunda). Ketiga, teks melibatkan penonton di dalamnya. Keempat, tokoh-tokoh yang ada dalam teks memiliki hubungan yang khas. Dan kelima, isi teks memiliki hubungan yang signifikan dengan kehidupan mahasiswa dan kondisi sosial-politik Indonesia pada akhir 1970-an.

Dalam tulisan ini saya memfokuskan diri pada dua hal terakhir, yakni hubungan antartokoh (yang di dalamnya tercermin formasi sosial/ideologis teks) dan hubungan teks dengan kenyataan sosial. Adapun, di dalam mengkaji teks drama “Tukang Asahan”, saya menggunakan analisis wacana Althusserean. Yang dimaksudkan dengan Althusserean adalah analisis wacana yang dikembangkan oleh Louis Althusser ditambah beberapa teori yang dipengaruhinya. Tujuannya ialah (1) untuk mengetahui formasi sosial/ideologis teks, (2) mengetahui posisi teks dalam formasi, (3) mengetahui tipe-tipe identifikasi, dan (4) mengetahui proses diskursif yang berlangsung di dalam teks.

Althusser cenderung memahami wacana sebagai ideologi dalam praktik; tak ada ideologi tanpa wacana, tak ada wacana tanpa ideologi (Faruk, 2000). Dengan demikian, wacana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari formasi sosial yang ada. Atau, ideologi adalah sebuah “representasi” hubungan individu-individu yang imajiner dengan kondisi-kondisi yang nyata (Selden, 1991: 40; Larrain, 1996: 182). Dunia yang dibangun oleh ideologi tidak sesuai dengan kenyataan, tapi cenderung menyerupai ilusi. Karena itu, ideologi hanya berfungsi bila ada subjek yang menentukan atau membentuk individu-individu yang konkret menjadi subjek-subjek. Ini merupakan fungsi rekognisi ideologi (Faruk, 2000).

Jika menerima subjektivasi, individu akan menganggap dirinya menjadi subjek yang sudah ditentukan dan bertindak menurut identitas yang diberikan kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa subjektivasi sekaligus akan menjadi subjeksi atau penaklukan (Faruk, 2000). Lalu, karena kesubjektivan individu sendiri adalah sesuatu yang imajiner yang dibangun oleh ideologi yang imajiner pula, ideologi tidak hanya berfungsi rekognisi, tapi juga misrekognisi, yakni penolakan. Faruk menguraikan bahwa sesuai dengan teori Marxis -pertarungan lintas-institusi di dalam wacana akan membangun kata-kata dan makna-makna yang bertentangan. Pertarungan ideologi ini akan memecah “pikiran” menjadi berbagai wilayah dan spesialisasi serta melahirkan persekutuan yang dapat (selalu) berubah di antara wacana-wacana itu. Inilah yang dinamakan formasi diskursif oleh Pecheux (Faruk, 2000).

Selain formasi diskursif, ada juga yang disebut proses diskursif. Menurut Pecheux (Macdonell, 1986: 48), proses diskursif adalah proses pembentukan makna material yang terjadi dalam wacana yang bertalian dengan apa yang dapat dan harus dikatakan di dalamnya. Proses ini terdiri atas dua macam cara yakni sinonimi dan polisemi, baik secara metonimik maupun secara metaforik (Faruk, 2000).

Selanjutnya, Pecheux membuat tiga cara dalam menentukan konstruksi subjek-subjek yakni identifikasi, identifikasi-tandingan, dan disidentifikasi (Faruk, 2000; Macdonell, 1986: 39). Identifikasi adalah cara pembentukan subjek yang dianggap baik oleh ideologi yang dominan sehingga individu yang diidentifikasikan dengan sukarela menerima citra tersebut. Citra ini biasanya dipertentangkan dengan subjek-subjek yang buruk. Identifikasi-tandingan dilakukan oleh individu yang menolak untuk dibentuk menjadi subjek-subjek yang oleh ideologi yang dominan dianggap baik. Mereka justru mengidentifikasikan diri dengan yang buruk. Dan, disidentifikasi dilakukan oleh subjek dengan berada di dalam identifikasi, tapi melakukan transformasi dan pemelesetan terhadapnya.

***

Teks drama “Tukang Asahan” bercerita tentang perjalanan Mahasiswa membantu Tukang Asahan yang hidupnya miskin. Mereka menjual barang dagangannya dari rumah ke rumah. Mula-mula mereka menuju rumah Sudagar, kemudian ke rumah si Kabayan, lalu ke keraton Raja.

Di depan rumah Sudagar mereka memperhatikan Nyonya Sudagar yang sedang meminta sang suami melipatgandakan kekayaannya. Sang suami menyanggupi dan menyuruh Badega (Pembantu) memanggil Kepalajagal. Kemudian, Tukang Asahan dan Mahasiswa memperhatikan si Kabayan yang sedang bertengkar dengan istrinya. Setelah itu, mereka melihat Putri Raja dan Lengser yang sedang bersedih hati karena suami sang Putri yakni Raja Putra akan dihukum mati oleh Raja yang berkuasa. Raja Putra dihukum mati karena menjadi pimpinan makar yang membela rakyat telantar.

Tukang Asahan dan Mahasiswa belum bisa menawarkan barang dagangannya kepada mereka. Keduanya hanya menyaksikan peristiwa selanjutnya. Mereka memperhatikan Kepalajagal yang mengatakan kepada Sudagar bahwa ia tidak mampu meningkatkan penyembelihan kerbau dan sapi untuk meningkatkan kekayaan Sudagar lebih dari 450 ekor per hari sebab golok dan pisaunya sudah tumpul dan tak ada batu pengasah. Sudagar pun menyuruh Badega mencari batu pengasah tersebut. Di keraton, algojo tidak bisa melaksanakan titah Raja karena goloknya tumpul dan di seluruh negeri tak ditemukan batu pengasah. Raja pun mengutus Lengser untuk mencari batu tersebut. Si Kabayan pun sama. Ketika disuruh mertuanya mencari kayu bakar ke hutan, ia menjawab bahwa goloknya tumpul dan tak ada batu pengasah. Akan tetapi, motif si Kabayan mencari batu pengasah berbeda dengan yang lainnya. Ia berpikir lebih baik mencari batu pengasah daripada mencani kayu bakar yang akan membuatnya capek. Ia akan mencari batu pengasah dan tak perlu mendapatkannya. Menurut Si Kabayan, mencari pun sudah termasuk bekerja.

Di perjalanan, Badega, si Kabayan, dan Lengser bertemu. Mereka saling mengemukakan tujuannya. Badega dan Lengser sama-sama pesuruh yang harus mendapatkan batu pengasah, sedangkan si Kabayan tidak. Melihat gelagat Si Kabayan akan mempengaruhi kedua temannya, Tukang Asahan menjadi ragu barang dagangannya bisa dijual kepada mereka. Pada saat itulah Mahasiswa menawarkan diri untuk memborong semua barang dagangan Tukang Asahan seharga sepuluh ribu rupiah. Kemudian, ia membagikan batu pengasah tersebut kepada penonton.

Pada akhir teks, digambarkan Raja sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati. Nyonya Saudagar cemas menunggu Badega, dan si Itok, istri si Kabayan uring-uringan karena si Kabayan lama tak pulang. Setelah mendengar keinginan mereka (dari arah keluarga Raja, Sudagar dan si Kabayan), Mahasiswa berkata kepada penonton bahwa suara mereka terdengar seperti suara Friedrich Wilhelm Nietzsche, Liberalisme Klasik dan si Kabayan. Kemudian, ia bertanya kepada penonton mau diberikan/dijual kepada siapa batu pengasah yang ada di tangan mereka.

***

Teks drama “Tukang Asahan” ditulis tahun 1980 saat Indonesia sepenuhnya berada di bawah “rezim otoritanian modern” (Soewarsono dalam Widjojo et al, 1999:9). Pada saat itu kekuasaan memusat pada satu tangan. Kekuasaan yang didominasi ABRI dengan mesin politiknya bernama Golkar (Golongan Karya) menguasai hampir semua bidang kehidupan. Kebebasan berbicara hampir tak ada. Kampus yang di dalamnya terdapat konstituen Mahasiswa, setelah dimasuki militer pada tahun 1978 semakin disosoki oleh ideologi Pancasila versi Orde Baru. Penataran diberlakukan bagi para pengajar dan mahasiswa dan beberapa tahun kemudian diberlakukan NKK/BKK serta SKS untuk membungkam suara kritis Mahasiswa.

Selain penguasa otoritarian, pada saat itu banyak pengusaha (termasuk pengusaha yang merupakan kepanjangan tangan asing) yang bersekongkol dengan penguasa dalam meraup hasil pembangunan. Pada saat itu kondisi kehidupan masyarakat Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Jurang kaya-miskin semakin tajam. Tahun 1977, 40% penduduk miskin menguasai kekayaan nasional sebesar 15%, 40%, penduduk menengah memegang kekayaan nasional sebanyak 40%, dan 20% penduduk lapisan atas menguasai 45% kekayaan bangsa (Sanit dalam Widjojo et al., 1999: 99).

Inilah formasi sosial yang menjadi konteks penulisan drama “Tukang Asahan”. Adapun formasi sosial yang ada di dalam teks dapat dipahami dari formasi sosial tokoh-tokohnya. Dua kelompok sosial utama yang terlihat di dalam teks drama tersebut ialah kelompok yang menginginkan/akan membeli batu asahan dan kelompok yang akan menjualnya. Kelompok pertama tendiri atas tiga tokoh dominan yaitu Sudagar, Kangjeng Raja dan si Kabayan, sedangkan kelompok kedua terdiri atas Mahasiswa dan Tukang Asahan.

Formasi sosial ini dibentuk melalui reproduksi formasi ideologis. Ada tiga formasi yang dominan dalam teks “Tukang Asahan”. Pertama, formasi sosial yang dibentuk melalui formasi ideologis yang dibangun melalui gagasan mengenai perbedaan kekuasaan yang menempatkan Kangjeng Raja sebagai penguasa yang unggul dan Mahasiswa/Tukang Asahan sebagai kelompok yang tersubordinasikan dan lemah. Kedua, formasi ideologis yang terbangun dari gagasan mengenai Sudagar yang memiliki modal dan Mahasiswa/Tukang Asahan yang lemah. Dan ketiga, formasi ideologis yang dibangun dari gagasan mengenai si Kabayan yang memiliki kebebasan individu dan tak memiliki kepentingan yang dipertentangkan dengan Mahasiswa/Tukang Asahan yang terkungkung oleh kepentingan.

Kelompok pertama yang berkuasa mengidentifikasi kelompok yang tersubordinasi sebagai kelompok kedua yang tergolong lemah, miskin, dan terbelenggu. Dengan demikian, kelompok pertama berada dalam posisi superior dan kelompok kedua berada pada posisi yang inferior. Sebenarnya, kedudukan kelompok pertama yang terdiri atas Sang Raja, Sudagar dan si Kabayan berada pada formasi sosial yang tidak sejajar, tapi hierarkis. Formasi sosial yang terbangun melalui reproduksi ideologis yang menempatkan penguasa politis di atas yang lainnya, tetap menempatkan Raja sebagai kekuatan yang superior, sedangkan Sudagar dan si Kabayan menjadi kelompok yang inferior dan tersubordinasi.

Dilihat dari hubungannya dengan kelompok kedua (Mahasiswa/Tukang Asahan), Sang Raja dan Sudagar berkontradiksi dengan si Kabayan. Kangjeng Raja dan Sudagar cenderung eksploitatif, sedangkan si Kabayan tidak. Ia justru hampir tak berkepentingan sama sekali. Di samping itu, dalam kelompok kedua yang terdiri atas Tukang Asahan dan Mahasiswa juga terdapat ketidaksetaraan. Meskipun Mahasiswa merupakan mitra kerja Tukang Asahan, kedudukan sosial Tukang Asahan sebagai pedagang kecil dan miskin berada di bawah kedudukan Mahasiswa yang mampu memborong semua barang dagangan dan membagikannya kepada penonton.

Secara metafonis Kangjeng Raja mengacu kekuasaan politik. Kangjeng Raja yang berkehendak mempertahankan kerajaannya dari berbagai rongrongan dan sekaligus mengekalkan kekuasaannya terbaca dari dialog no. 146 sebagai berikut:

146. RAJA : Kaula murba wisésa, kawasa teu aya tanding, uteuk tongo walangtaga, nu aya di ieu nagri kumaha kula pribadi, kudu paéh kudu hirup, gumantung ka ucap kula.

Aku sangat berkuasa, kekuasaanku tiada tanding, semua yang ada di negeri ini, bergantung padaku, hidup atau mati, bergantung pada ucapanku.

Adapun Sudagar mengacu kepada pemilik modal atau kekuatan ekonomi yang selalu ingin meningkatkan kekayaannya. Dalam dialog no. 046, terlihat bagaimana rakusnya Nyonya Sudagar terhadap harta. Ia selalu ingin menjadi orang yang terkaya. Dan, sang suami selalu meluluskan segala keinginan istrinya.

046. NYONYA SUDAGAR: ... Sanajan enya geus loba hasilna, tapi kapan urang téh kudu usaha sangkan leuwih.

Walaupun sudah banyak hasilnya, tapi kita harus berusaha supaya lebih.

Berbeda dengan Sudagar dan Kangjeng Raja, si Kabayan mengacu kepada kelompok masyarakat yang tidak peduli. Ia merepresentasikan manusia yang tak benguna dan malas dan selalu mencari pembenaran atas tindakannya. Hal ini terungkap dari dialog no. 115, 237, dan 243 di bawah ini:

115. SI KABAYAN : Paséa téh olah raga, bisi teu nyaho. Seni deuih. Olah raga ku sabab ngaluarkeun tanaga. Seni lantaran ngaluarkeun perasaan....

Bertengkar itu olahraga, jika kau tak tahu. Juga seni. Olahraga karena mengeluarkan tenaga. Seni karena mengeluarkan perasaan....

237. SI KABAYAN : Sabenerna ceuk kuring mah manusa téh... kaasup kana mahluk anu pagawéanana saré. Éta cenah sok hudang. Hudang sotéh kapaksa baé lantaran kahiji ngadagoan tunduh deui, kadua moal enya dahar bari saré.

Sebetulnya, menurutku, manusia itu makhluk yang pekerjaannya tidur. Jika mereka bangun itu karena terpaksa sebab pertama menunggu datangnya kantuk lagi, kedua mana mungkin makan sambil tidur.

243. SI KABAYAN : ... lamun bedog diasah, tangtu bakal seukeut. Lamun bedog seukeut, aing kudu ngala suluh. Cararapé teuing, lah! Tapi ti batan ngala suluh ka leuweung mah mending néangan asahan. Néangan, lain kudu meunang asahan. Néangan gé, sanajan teu manggih, teu beubeunangan, kaasup kana pagawéan.

... jika golok diasah, tentu tajam. Jika golok tajam, aku harus mengambil kayu bakar. Susah! Tapi, daripada mengambil kayu bakar lebih baik mencari batu asahan. Mencari, tak mesti mendapatkannya. Mencari, meskipun tak sampai mendapatkannya, termasuk pekerjaan.

Tukang Asahan dan Mahasiswa mengacu pada eksistensi lembaga pendidikan, tepatnya para intelektual. Hal ini terjadi, jika hubungan antara Mahasiswa dan Tukang Asahan dipahami secara metaforis. Tukang Asahan adalah orang yang “menjual” batu asahan. Dalam konteks Mahasiswa, batu asahan merupakan metafor ilmu pengetahuan. Adapun Mahasiswa jelas mengacu pada Mahasiswa pada umumnya, yang telah “membeli” ilmu pengetahuan dan yang berhak menentukan dan mau diabdikan kepada siapa (268 dan 307).

268. MAHASISWA : ... éta batu asahan téh dipésér baé ku abdi.

... batu asahan ini saya beli.

307. MAHASISWA : ... (MANÉHNA NYOKOT BATU ASAHAN TULUY DIBIKEUN KA NU LALAJO). Éta batu asahan parantos diical ka nu lalajo.

(IA MENGAMBIL BATU ASAHAN LALU DIBERIKAN KEPADA PENONTON). Batu asahan itu sudah saya jual kepada penonton.

Seperti telah disebutkan di atas, sebagai kekuatan dominan, penguasa politik dan penguasa ekonomi memiliki kepentingan terhadap dunia pendidikan atau para intelektual serta produknya berupa ilmu untuk mengekalkan posisinya. Paulo Preire, seorang tokoh pendidikan dari Amerika Latin pernah mengatakan bahwa tugas utama pendidikan sistematis adalah reproduksi ideologi kelas dominan, reproduksi kondisi-kondisi untuk memelihara kekuasaan mereka .... (dalam Escobar, 1998: 32).

Seperti para penguasa, para pengusaha atau pemilik modal pun memiliki kepentingan pada lembaga pendidikan. Hubungan itu pun bisa berupa hubungan yang sangat hegemonik. Kepentingan kapitalis menjadikan dunia pendidikan mampu melestarikan bahkan melipatgandagakan kapital yang ada, yakni dengan cara memproduksi lulusan-lulusan lembaga yang bisa menjadi pekerja yang baik dan taat terhadap majikan. Dikatakan oleh Bertrand Russel bahwa salah satu tujuan pendidikan ialah untuk meningkatkan produksi total. Selain itu, ia pun mengatakan bahwa penduduk yang dapat membaca dan menulis lebih efisien daripada yang tidak (Russel, 1993: 163-164).

Kelompok ketiga ialah kelompok orang yang apatis terhadap lembaga pendidikan. Mereka memandang lembaga ini sebagai sesuatu yang tak perlu, malah cenderung menolaknya. Pendidikan atau ilmu telah memasung manusia dalam norma-norma masyarakat. Pendidikan adalah pemasungan, pendidikan adalah penyeragaman pikiran dan juga penjinakan manusia, atau penumpul kreativitas. Oleh karena itu, manusia harus diantar kembali kepada kediriannya yang unik sebab pendidikan cenderung menggiring orang menjadi massif atau mengekalkan sebuah tatanan yang ada. Dengan demikian, pendidikian itu ibarat candu (Topatimasang, 1999).

***

Posisi teks drama “Tukang Asahan” mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok kedua, tepatnya dengan Mahasiswa. Hal ini sangat tampak dari kedudukan Mahasiswa di dalam teks tersebut sebagai tokoh utama. Pertama, teks diawali dan ditutup dengan dialog Mahasiswa, kedua, ia pun berperan sebagai penyambung setiap epidode yakni antara episode Kangjeng Raja, Sudagar dan si Kabayan, ketiga, dalam adegan terakhir, ia berubah menjadi “Tukang Asahan” setelah memborong batu pengasah dari Tukang Asahan.

Menghadapi tokoh Tukang Asahan yang memiliki posisi sebagai penjual, teks drama “Tukang Asahan” menggiring kontradiksi ini menjadi sinonimi. Caranya dengan teknik metafora atau perbandingan dan teknik metonimik atau kelekatan. Metafora dibangun dengan anggapan bahwa Tukang Asahan dan Mahasiswa mengacu pada objek yang sama, yakni menentang kelompok pertama (Kangjeng Raja, Sudagar, dan Si Kabayan). Teknik metonimik dibangun dengan anggapan bahwa Mahasiswa dan Tukang Asahan berada pada tempat yang sama, yakni sama-sama menjual batu asahan.

Kelompok pertama terdiri atas tiga tokoh dominan, yakni Kangjeng Raja, Sudagar dan si Kabayan. Akan tetapi, di antara meneka terdapat perbedaan. Kanjeng Raja dan Sudagar, masing-masing memiliki perbedaan. Kangjeng Raja memiliki kekuasaan yang dapat mengontrol Sudagar. Namun, dalam hubungannya dengan kelompok kedua yakni Tukang Asahan dan Mahasiswa, kedua-duanya menjadi sinonimi karena sama-sama berkepentingan untuk mempertahankan eksistensi dirinya bahkan berusaha untuk meningkatkan kekuasaan dan kekayaan yang sudah dimilikinya.

Perbedaan tersebut terdapat pula pada posisi Si Kabayan dengan tokoh Raja dan Sudagar. Kangjeng raja menginginkan batu pengasah untuk mengekalkan kekuasaan, sedangkan si Kabayan tidak. Dengan batu pengasah Sudagar menginginkan kelimpahan kekayaan, sedangkan si Kabayan tidak. Tegasnya, dalam hubungannya dengan Tukang Asahan/Mahasiswa, si Kabayan, sebenarnya berbeda dibandingkan dengan Kangjeng Raja dan Sudagar.

Dari sudut pandang Mahasiswa kontradiksi-kontradiksi di atas dipandang sebagai sinonimi. Tegasnya, ketiganya, Kangjeng Raja, Sudagar dan si Kabayan sama-sama berbahaya. Yang pertama menginginkan batu asahan untuk mengekalkan kekuasaan meskipun dilakukan dengan kekerasan (membunuh Raja Putra), yang kedua menginginkan batu asahan untuk melipatgandakan kekayaannya yang tanpa batas, dan yang ketiga malah menyangsikannya. Si Kabayan merasa bahwa mendapatkan batu asahan akan menambah pekerjaan, dan hal ini tidak membuatnya berbahagia.

Sinonimi dilakukan pula dengan mendekatkan Raja dengan suara Friedrich Wilhelm Nietzsche -seorang filsuf Jerman dan Saudagar dengan suara Liberalisme Klasik- yang di antara tokoh-tokohnya terdapat empat besar yaitu Adam Smith, Jean Baptist Say, David Ricardo dan Thomas Robert Malthus. Di dalam dialog no. 307, secara tersurat tokoh Mahasiswa berbicara kepada Penonton:

Kadangu ku sadaya. Aya sora Friedrich Wilhelm Nietzsche, aya sora Liberalisme Klasik, sareng aya sora si Kabayan. Batu asahan kagungan, sumangga badé dipasrahkeun atanapi badé diical ka saha?

Semuanya mendengar. Ada suara Friedrich Wilhelm Nietzsche, ada suara Liberalisme Kiasik, dan ada suara si Kabayan. Batu asahan anda, silahkan mau diberikan kepada siapa?

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) terkenal dengan kata-katanya Wille zur Macht ‘keinginan untuk berkuasa’ yang pernah disalahgunakan oleh kaum rasialis Nazi Jerman untuk mengukuhkan kekuasaannya dan sekaligus membantai orang-orang yang berbeda haluan dengannya (Hamersma, 1990: 81). Adapun Liberalisme Klasik adalah pemikiran dalam bidang ekonomi yang menganut persaingan bebas. Djojohadikusumo (19991: 27) menguraikan pandangan mereka mengenai tata susun ekonomi masyarakat:

kegiatan perseorangan atau pun kegiatan satuan-satuan usaha harus diberi kebebasan untuk mengurus kepentingannya sendiri dan memperbaiki kedudukannya di bidang ekonomi. Kegiatan ekonomi yang dilakukan dalam persaingan bebas akan jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai keseluruhan daripada halnya kalau segala sesuatu itu diatur oleh pemerintah. Pandangan tersebut didasarkan atas saran pendapat, bahwa produksi dan konsumsi serta pembagian kekayaan pada asasnya sudah ditentukan menurut hukum-hukum ekonomi yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat.

Dilihat dari sudut pandang Mahasiswa, teks drama “Tukang Asahan” melakukan identifikasi tandingan terhadap kelompok yang pertama (Kangjeng Raja, Sudagar, Si Kabayan) yakni dengan memilih yang bukan mereka, tapi memilih pertimbangan para penonton. Penonton adalah metafor masyarakat secara keseluruhan.

***

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa simpulan: (1) teks drama “Tukang Asahan” yang ditulis tahun 1980 mencerminkan kuatnya posisi penguasa dan pengusaha serta lemahnya posisi Mahasiswa dan masyarakat kecil, (2) di hadapan kekuasaan politik Raja dan kekuatan ekonomi Sudagar serta “hedonisme prasejahtera” si Kabayan, tokoh Mahasiswa dalam teks drama “Tukang Asahan” berada pada posisi yang inferior yakni lemah, miskin, dan terbelenggu, (3) teks drama “Tukang Asahan” mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh Mahasiswa, (4) di dalam proses diskursifnya, teks drama “Tukang Asahan” mengadakan beberapa sinonimi. Pertama, sinonimi antara tokoh Raja, Sudagar, dan si Kabayan, kedua, sinonimi tokoh Raja dengan Nietzsche dan Sudagar dengan Liberalisme Klasik, ketiga, sinonimi tokoh Mahasiswa dengan Tukang Asahan, (5) teks drama “Tukang Asahan” melakukan identifikasi tandingan yaitu dengan tidak memilih salah satu dari eksistensi Raja, Sudagar dan si Kabayan, tapi memilih Penonton beserta pertimbangannya.



[1] Nama ini tidak ada dalam drama “Tukang Asahan”. Yang ada di dalam teks adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche, Liberalisme Klasik, dan Si Kabayan. Demi kesejajaran dalam judul tulisan ini, saya memberanikan diri mengambil salah satu tokoh Liberalisme Klasik jang paling terkenal, yaitu Adam Smith (1723-1790).

“Mahasiswa di antara Suara Nietzche, Smith dan Si Kabayan: Analisis Wacana Drama ‘Tukang Asahan’ Karya Wahyu Wibisana” dimuat dalam Jurnal Sastra, volume 8, no. 6, Oktober-Desember 2000, hlm.1-9.

Nonverbal - Tentang Api